Tiga Doa Tiga Cinta dan Stereotype Tentang Dunia Islam

“Islam di Indonesia tak pernah monolitik.” Demikian ujar Eric Sasono saat menyajikan ulasannya mengenai Tiga Doa Tiga Cinta (www.rumahfilm.org, 1 Januari 2009). Bagi Sasono, 3 Doa tidak saja mampu menghadirkan sebuah keseharian Islam yang sederhana, tetapi juga tidak terlalu repot dalam menyajikan Islam itu, bahkan ketika ia memiliki pilihan untuk mengabarkannya dengan detail yang sungguh-sungguh tentang dunia pesantren.

Seperti kesederhanaan pembuatnya saat menghadirkan Islam ke dalam perbincangan, maka Tiga Doa Tiga Cinta juga, seakan tidak memersoalkan kapasitas pengetahuan penontonnya. Dengan kesederhanaan penyajian, Nurman, yang menjadi sutradara dalam film ini, melihat Islam benar-benar dalam wajahnya yang tak lagi perlu diperkenalkan lebih jauh. Islam hanya harus diketahui dalam kronika, dalam persilangan, dalam kelokalan yang terus hadir, dan selanjutnya, berbicara sendiri tanpa perlu diperkenalkan.

Makanya, menonton Tiga Doa Tiga Cinta, serasa menonton film Islam yang sungguh-sungguh. Tanpa kerepotan untuk mencari-cari, kesana-kemari, tentang apa sesungguhnya Islam itu, dan bagaimana dapat mengetahuinya berada dalam rangkaian cerita. Di film ini, Islam tidak saja terus tampil, tapi tampil berbeda. Ia hadir dalam tiap susunan cerita, meski dalam tubuh lain, sebuah tubuh lokalitas.

Dan, dalam tubuh itulah Islam menguasai jalannya cerita, yang dituturkan melalui lakon tiga tokoh. Huda, seorang lelaki tampan yang sedang mencari Ibunya; Rian, santri kelas menengah yang mengidamkan bisa menjadi seorang tukang film; dan Sahid, lelaki miskin sholeh yang telah terasuki gagasan-gagasan kebencian tentang Barat dan yang berhubungan dengannya, dari seorang guru di dalam pesantren.

Di film ini, yang bernama sudut pandang, laiknya kamera film yang diidamkan Rian, adalah tentang subjektifitas melihat. Karena, dari cara pandang berbeda, persoalan dapat terlihat begitu lain, tak sama, atau justru, berlawanan. Bila cara pandang telah terkondisi oleh kebiasaan, maka yang ada sekedar stereotype, pandangan umum yang terlalu generalis.

Tiga Doa Tiga Cinta seperti mengajari kita cara melihat itu, dan bagaimana cara melihat itu dapat melahirkan berbagai akibat, yang beberapa darinya dapat sangat fatal. Huda, walhasil melihat sesuatu yang berbeda dari Donna Satelit, seorang penyanyi seksi yang sempat sekali mencium pipinya; Rian, mendapat cara pandang lain tentang dunia film, saat bertemu dengan seorang tukang film keliling; dan Sahid, akhirnya menemukan orang Barat baik, dari gambarannya selama ini yang buruk tentang Barat dan orang-orangnya.

Tiga Doa Tiga Cinta, membuat kita belajar untuk tak menyimpulkan, belajar untuk membiasakan diri untuk mengenal lebih jauh setiap sesuatu yang terpaksa di universalisasi, atau digeneralisasi. Begitu juga seharusnya Islam diposisikan. Apa yang dilakoni Sahid, sekedar keberagamaan yang jujur, sebuah ketaatan yang terus saja datang berjibaku dari kesalehan. Sahid mempelajari Islam dalam ketaatan itu, dalam pencarian yang terus-menerus, meski menciptakan generalisasi pandangannya yang buruk dalam memaknai Barat dan Amerika.

Jadinya, dalam pandangan itulah Islam melihat dan dilihat sekalian. Di satu sisi, ia melihat Barat sebagai yang zalim, yang menindas, yang menyengsarakan umat muslim di banyak penjuru dunia. Sementara, Barat sendiri, memandang Islam sebagai teroris, fundamentalis beragama, atau juga ekstrimis-militant bodoh yang tak pernah belajar humanisme.

Dari sosok Huda, pandangannya bisa jadi berubah saat Donna Satelit telah dikenalinya sedikit lebih lama. Ia tidak menutup mata, sebagaimana yang akan dilakukan oleh para pemeluk agama yang taat. Melalui cara yang tak juga dapat dikatakan menentang aturan beragama, ia berhasil melihat Donna dalam cara berbeda.

Tapi, memang seperti itulah tampaknya para lakon dalam film ini hendak dihadirkan. Sebentuk ruang pesantren Indonesia yang, meminjam perbendaharaan Sasono, “amat akrab”, yang membuat mereka yang berada di dalam pesantren, tidak hanya belajar dari nilai-nilai pesantren, tetapi dari sekian banyak praktik yang selalu saja melingkupi pesantren itu, begitu dekat.

Dari Tiga Doa Tiga Cinta, pertemuan antara yang Barat dan Timur itu bertemu, dalam berbagai cara, saat pandangan dan stereotype itu begitu digdaya. Dalam cara itulah dialog berlangsung, sebuah momen yang menyiratkan betapa individu itu dapat lahir dalam perbedaan perilaku yang keluar dari sekedar kelaziman pandangan umum.

Leave a Reply