Ruang
Oleh : Eeduy_Haw

lt. 2 gedung FIS III - Jaya
SCENE 1
“Apakah karena saya itu bukan manusia hangat, tetapi judes, mulutnya tidak ikut mengecap pendidikan tinggi, ketus sehingga ruang tamu di rumah saya itu selalu sepi, senyap seperti kuburan yang dikunjungi hanya kalau ada perlunya?”
Rasa-rasanya keluh kesah Samuel Mulia –penulis kolom Parodi di harian KOMPAS– di atas tidak dialaminya sendiri. Dipikir-pikir ruang tamu di rumah kita pun mungkin bernasib sama. Kapan sih terakhir kali tamu (dalam artian benar-benar tamu) sudi datang untuk mendudukkan kedua belahan pantatnya berlama-lama di salah-satu kursi ruang itu?
Bersyukurlah sekiranya ruang itu masih mau menjalankan fungsinya dengan fasih ketika Lebaran atau Natal tiba. Itupun yang datang mungkin tak seberapa, hanya keluarga dekat saja. Bayangkanlah dulu, ketika hari perayaan seperti ini tamu-tamu bahkan harus rela mengantri. Hari pertama jatahnya keluarga dekat, hari kedua giliran sahabat-sahabat tercinta, hari ketiga para tetangga, hari keempat menyusul relasi-relasi. Itu belum dibagi berdasarkan kategori tamu Ayah, tamu Ibu, tamu Kakak, dan tamu Adik. Maka praktis seminggu bahkan lebih, ruang itu bekerja dengan ekstra giatnya.
Sekarang cobalah berhenti membayangkan dulu, perhatikan kinerja ruang tamu kita Lebaran atau Natal terakhir. Mungkin tak sesemarak dulu. Tengok pula apa kabarnya ruang tamu kita di luar momen-momen perayaan seperti itu, atau cobalah sekali-sekali mampir untuk sekedar duduk di ruang tamu kita. Sukur-sukur kalau cicak dan laba-laba masih mau setia menggantung di dinding dan plafon.
Yasraf Amir Piliang mungkin tak seheran Samuel Mulia. Dalam bukunya ‘Posrealitas, realitas kebudayaan dalam era posmetafisika’ boleh dikata ia mempreteli fenomena ruang ini hingga ke bagian-bagian paling intim. Silaturahmi sosial (interaksi sosial) kata Yasraf, kini tak lagi harus dilakukan dalam ruang sosial (social space) yang nyata (real).
Jangankan ruang tamu, ruang-ruang sosial-budaya dalam pengertian konvensional semisal RT, RW, desa, lingkungan hingga negara kini telah diambil alih oleh ruang-ruang simulasi sosial (social simulacrum). Kita telah berada di suatu masa dengan tatanan yang terintegrasi dalam masyarakat informsasi global (global information society). Kita berada di sebuah situasi dimana teknologi komunikasi telah menjadi ekstensi bahkan subsitusi indera kita.
Untuk mengucapkan kalimat “mohon maaf lahir & batin” kita tak harus menempuh perjalanan sejauh beberapa kilometer untuk kemudian mengetuk pintu dan menjabat erat tangan si empunya rumah. Dengan membuka kotak pesan, mengetik serangkaian huruf-huruf, dan jangan lupa sisipkan simbol J sebagai pemanis, kalimat itu telah sampai melalui layanan short message service. Atau kalau tidak kirim saja via e-mail. Selesai.
Jarak dan waktu bukan lagi kendala. Urusan bertamu atau siapapun yang kita ingin kunjungi bukan masalah. Kita boleh mengetuk pintu ‘ruang tamu’ virtual Dian Sastrowardoyo untuk sekedar memujinya bahwa dia berakting apik dalam film C atau D. Lewat Facebook, Friendster atau My Space, kita tak perlu ke luar negeri untuk memberi ucapan selamat atas kelahiran anak kembar pasangan Brad Pitt & Angelina Jolie. Kita bahkan bisa melayangkan doa kepada Mr. Obama atas pelantikannya sebagai orang nomor satu United State of America agar kiranya dalam menjalankan kebijakannya akan sesuai dengan keinginan isi kepala orang-orang se-dunia. Paling tidak mampirlah di Menteng, mencicipi bakso racikan Lapangan Tembak Senayan biar orang-orang se-Indonesia berhenti uring-uringan.
Apa sih yang hari ini yang tak bisa dilakukan di dunia maya?
Bersenda gurau, main game, belanja, berdagang, berdebat, mengumpulkan literatur, protes, berpolitik, cari teman, cari massa, cari pacar, bahkan melakukan kegiatan seksual dan prostitusi pun semua bisa dilakukan lewat internet.
Maka jangan heran, jika komunikasi sosial konvensional ala jadul (face to face communication) tak lagi dianggap penting. Orang-orang kini lebih nyaman duduk tamasya hingga tujuh jam lebih di depan monitor komputer daripada duduk satu jam dikursi sofa ruang tamunya Bung Samuel yang dibungkus dengan kain sutra.
Jangan heran pula bila kini ruang tamu kita isinya hanya cicak dan laba-laba yang ikut-ikutan boring menunggu sampai-sampai bikin rumah di dalam rumah. Tak perlu mengerutkan dahi, bila nantinya ruang tamu kita, meski dipercantik sedemikian rupa jatuh-jatuhnya hanya menjadi pajangan di majalah interior.
SCENE 2
“Sudahlah, setiap kita sebenarnya memerlukan ruang!”
Ibarat anak panah yang melesat, kalimat itu menancap tepat di titik sasaran. Setelah kalimat itu diakhiri dengan tanda seru, sontak orang-orang yang sedang berdiskusi kecil-kecilan di ‘pasar’ bereaksi seragam. Kalau bukan tertawa kecil dengan chord getir, pasti diam terpana beberapa saat seperti ditikam anak panah.
Sekedar informasi, pasar adalah suatu tempat di kawasan FISIP kampus Universitas Hasanuddin yang tergeletak di bawah rerimbunan satu pohon mangga besar. Pasar merupakan lokalisasi gerobak-gerobak pedagang kecil-kecilan yang dulunya tersebar di pelataran koridor FISIP milik penduduk asli yang tinggal di sekitaran kampus. Di depan gerobak-gerobak itulah para mahasiswa, alumni, hingga dosen kerap nongkrong membincangkan tentang apa saja.
Balik ke soal kalimat.
“Kapitalisme tidaklah berakhir. Hanya kata Habermas, kapitalisme masih belum mampu untuk mengakomodir ruang-ruang kepentingan yang ada di kepala masing-masing individu. Bila nantinya ruang-ruang itu telah terpenuhi, maka tak ada lagi yang perlu merasa didominasi atau mendominasi,” lanjut si pemilik kalimat.
Ruang yang dimaksud tentu bukanlah ruang dalam makna harfiah, yakni ruang fisik yang isinya bisa diukur secara mamtematis berdasarkan hasil perkalian dari (p) panjang, (l) lebar dan (t) tinggi. Ruang yang ia tuju adalah sebuah dimensi atau kondisi dimana di sana eksistensi individu bisa dimanifestasikan.
Ruang yang ia maksud itu mungkin ruang sosial, ruang ketika seseorang boleh mendapatkan pengakuan, penghargaan, atau perlakuan istimewa dari orang lain di dalam masyarakat atas dirinya.
Ruang itu mungkin oleh Antonio Gramsci hanya bisa tercipta bila berhasil lolos dari peliknya lubang jarum hegemoni– keberhasilan kita dalam menanamkan pandangan hidup, relasi sosial, atau hubungan kemanusiaan sehingga diterima sebagai sesuatu yang dianggap benar (common sense) atau alamiah oleh orang-orang.
Ruang itu mungkin ruang yang kita bangun berdasarkan akselerasi kekuatan modal, kekuasaan struktural, intelektualitas, bakat, keahlian, kecantikan, penampilan, kekuatan otot, pedang, AK-47, atau kombinasi cara-cara halal dan haram .
Ruang itu mungkin popularitas bagi band-band genit pendatang baru dan aktor-aktor bau kencur. Dimana dengan popularitas visi dari karya seninya bisa mengaung di mata dan telinga banyak orang. Ia pun puas sampai lemas tanpa peduli berapa keuntungan material yang diperoleh setelahnya. Atau yang terjadi mungkin sebaliknya, dengan popularitas dan perolehan keuntungan material maka ruang telah paripurna, peduli suster ngesot (baca: setan) dengan visi karya seni.
Ruang itu mungkin oleh Pierre Bourdieu menuntut kemampuan kita mengkombinasikan secara cerdas perangkat habitus, modal dan ranah yang kita punyai. Sehingga di dalam percaturan sosial, kita lebih menjadi optimal dengan sendirinya.
Ruang itu mungkin adalah ruang yang harus selalu kita jaga. Sehingga setiap tutur, laku, mimik, ekspresi, gesture, hingga cara kita berjalan pun diatur sedemikian rupa agar tak membuat orang lain muak dan meludah di depan kita. Jangan, jangan sampai berbuat overacting hingga posisi (image) sosial kita ternodai seolah-olah habis diperkosa.
Ruang itu mungkin tak lain ego-nya Sigmund Freud, yang hadir di kepala kita setelah melalui proses hitung-hitungan yang matang dari dorongan tak terkendali libido dan konsekuensi logis tekanan luar superego.
Ruang itu pada akhirnya akan terdistribusi secara merata ramal Karl Marx. Segera setelah jurang perbedaan kelas telah hancur, maka akses menuju syarat-syarat produksi, sarana produksi, dan hubungan produksi menjadi milik semua orang. Dan kemudian kita menari-nari di dalam ruang (commune) yang sama.
Ruang itu mungkin yang oleh Friedrich Nietzche adalah kondisi dimana kita harus selalu mengatakan ‘ya’ kepada setiap detik dari hidup yang berjalan, terlepas dari apa rupa situasi yang sedang dihadapi. Sebab kapal telah mengarungi samudera yang luas dan daratan dibelakang kita telah dihancurkan. Pintu pulang telah tertutup, satu-satunya yang ada sekarang bahwa kita harus selalu menghargai apapun (ruang) yang ada di genggaman.
Ruang itu mungkin bagi sufisme tak ada yang lain selain ruang yang dengannya ia bisa mewujud, melakukan penyatuan transedental dengan Tuhan (wahdatul al-wujud), yang merupakan hasil dari cinta yang ditanam dalam diri masnusia. Sehingga dengannya, kesadaran bahwa semua eksistensi hanyalah semata-mata pancaran cahaya wujud Tuhan dan tak ada sesuatu yang lain yang memiliki eksistensi apapun. Dunia beserta segala kemilau isinya yang bisa menipu, menyilaukan, bahkan meyesatkan dengan sendirinya menjadi lenyap tak berarti (fana’) dan digantikan dengan dunia ‘keabadian’ (baqa’) dalam Tuhan.
Atau mungkin ruang yang dimaksud itu seperti ucapan Nurcholis Madjid (1939-2005) “Seorang yang bebas, harus bisa membayangkan hidup dalam situasi (ruang) apapun tanpa perlu kehilangan esensi kemanusiaannya.”
SCENE 3
“Sekarang persoalannya adalah bagaimana kita bisa menciptakan ruang bagi kelangsungan eksisitensi kita,” ucap si pemilik kalimat di salah satu bangku pasar depan gerobak mace (mama). Sore itu langit telah kemerah-merahan menyongsong maghrib..
Kalimat itu mungkin elok bila dilanjutkan dengan akhir tulisan Samuel Mulia yang tertera di harian KOMPAS. “Selamat berjuang membuat ruang tamu Anda seperti magnet,” katanya.
* * *


testing comment