Nongkrong! Sia-siakah?

Oleh : Victor Sosang

MTC sospol - siapa yg motret ?

MTC sospol - siapa yg motret ?

Pernah coba jalan-jalan ke unhas (Universitas Hasanuddin) di masa perkuliahan sedang padat-padatnya? Maka salah-satu hal yang niscaya anda akan jumpai adalah kumpulan-kumpulan mahasiswa yang tengah asyik duduk berkerumun.

Nongkrong. Ya, itulah istilah yang biasa kita pakai untuk menyebutnya. Tapi kayaknya, urusan nongkrong bukan cuma terjadi di unhas saja. Pemandangan seperti ini dapat kita jumpai juga di setiap pelataran kampus manapun. Entah itu kampus yang telah tercatat oleh instansi yang bertanggung jawab ataupun yang belum alias lupa dicatat.

Budaya nongkrong memang mewabah. Penikmatnya pun bukan ekslusif dari kalangan kampus semata. Di depan televisi orang-orang sering nongkrong. Tengok saja bagaimana Daniel, salah satu VJ (Video Jockey) MTV sering menyapa kita

“Halo…anak nongkrong MTV! What’s up!” sapa cowok blasteran yang berlesung pipi ini disertai senyum manis.

Selain di kampus dan depan TV, terminal, kafe, mall, warung kopi, dekker (tempat duduk di perapatan jalan), kamar kos-kosan, atau pos ronda juga tak luput dijadikan orang-orang sebagai ajang kongkow-kongkow (istilah lain menyebut nongkrong).

Bahkan yang lebih menakjubkan, abdi-abdi pejabat instansi pemerintahan (maaf, sekali lagi instansi pemerintahan) pun dirasuki budaya satu ini. Mereka kerap nongkrong di sudut-sudut depan kantor meski masih dalam masa jam kerja.

Di kampus, ritual menunggu dosen atau jeda waktu kuliah yang panjang menjadi alasan untuk nongkrong. Keuntungannya, para mahasiswa bisa menambah sekaligus menumbuh-kembangkan relasi sosialnya. Lain lagi bagi para alumni yang juga masih doyan ke kampus. Silaturrahmi, jalan-jalan, dan bernostalgia demi mengenang romantisme masa lalu adalah latar-belakang kedatangan mereka.

Nah, di Unhas, nongkrong umumnya dilakukan di tempat mace-mace –sebutan untuk para pedagang yang umumnya dilakoni kaum ibu– berjualan aneka kebutuhan lambung mahasiswa. Kemasan acaranya diisi antara lain dengan main domino, ngobrol, cekikikan, atau berkunjung ke jagad maya (sekitar 1 tahun terakhir internet mulai meramah kampus yang katanya terbesar di Indonesia timur ini).

MTC sospol - siapa yg motret ?

MTC sospol - siapa yg motret ?

Bahan obrolan macam-macam. Dari soal kuliah, organisasi mahasiswa, buku terbaru, skripsi, musik, film, persiapan demonstarsi, gosip tentang cewek/ cowok yang bikin liur menetes, hingga soal berapa helai kumis Tukul Arwana pun dikaji dengan menggunakan metode ilmiah.

Ajaibnya, meski dewa matahari telah menghilang di ufuk, para pecandu nongkrong masih betah menghabiskan waktu hingga adzan isya berkumandang. Bila masih belum puas, padahal nyamuk telah menyerang membabi buta sementara mace mulai menggembok gerobaknya maka tempat nongkrong lantas dialih-fungsikan ke tempat lain. (catatan: gerobak digembok itu tandanya mace “mengusir” secara halus).

Yah…nongkrong memang telah menjadi candu. Semacam zat-zat yang –mungkin laknat kata Bang Rhoma – membuat orang ketagihan. Bukan ke kampus katanya jika tak menyempatkan waktu untuk menyandarkan pantat di kursi depan gerobak mace. Meski itu hanya beberapa menit.

Sepintas lalu, orang-orang mungkin akan berpikir bahwa aktivitas ini hanya membuang-buang waktu. Namun orang-orang tersebut sebenarnya salah-kaprah, sebab nongkrong bukan hanya membuang waktu, tetapi energi dan cost pun ikut terkuras.

Lantas, apakah nongkrong memang kerjaan yang tak ada barokahnya?

Kata teman saya, banyak hal yang bisa lahir dari rutinitas semacam ini. Berbagai kegiatan mahasiswa ide-idenya lahir dari gerobak depan mace. Sebut saja pembuatan film, rancangan-rancangan penelitian, pameran foto, tulisan-tulisan di media massa, workshop pelatihan, atau kegiatan sosial lainnya.

Lepas dari itu, kata teman saya lagi, nongkrong juga dapat dilihat sebagai suatu bentuk resistensi. Logika kapitalisme menekankan percepatan produksi. Baginya, makin cepat produksi berputar maka makin besar pula hasil yang diperoleh. Karenanya pemanfaatan waktu seoptimal mungkin menjadi syarat mutlak. Kalimat sederhananya “waktu sama dengan uang”.

Namun konsekuensi yang harus dibayar adalah tercerabutnya manusia dari waktu luang. Persis seperti apa yang tergambar dalam film “Citizen Dog” karya sutradara Wisit Sasanatieng (Thailand) bila memang pernah menyaksikannya. Nah, di situ digambarkan bagaiamana orang-orang pabrik tak ubahnya robot-robot yang memproduksi sarden dari pagi hingga petang setiap harinya.

Nongkrong menolak logika ini, menurutnya waktu bukan untuk dikerahkan semuanya untuk kegiatan produksi (kerja). Memang, tak ada cerita bahwa sehabis menyandarkan pantat bersama sekumpulan teman-teman, orang lalu mendapatkan upah sehari, seminggu atau sebulan. Tapi dengan nongkrong orang bisa menciptakan hubungan sosial baru, mempererat hubungan sosial yang ada, saling bertukar informasi, atau sekedar bernostalgia mengenang romantisme masa lalu. “Inilah harga sosial yang diperoleh dari nongkrong yang belum tentu setimpal dengan segepok duit ribuan,” timpal teman saya dengan semangat 17 Agustus.

Lagi pula sekali nongkrong di kampus, toh tak harus merogoh kocek begitu dalam. Kalau dihitung-hitung mengisi perut sebanyak 2-3 kali di gerobak mace tidak lebih besar dari harga secangkir Cappucino racikan J” CO, Exelco, atau Black Canyon. Enaknya lagi, di mace orang boleh ngutang dengan suku bunga nol rupiah.

Anyway, kejadian di atas sebenarnya pernah terjadi di seputar Unhas.

Ceritanya, Dalam suatu tongkrongan seorang mahasiswa (panggil saja si A) berkeinginan mengajak temannya (panggil saja si B) untuk sama-sama ke rumah dosen mengurus nilai mata kuliah mereka yang sama-sama status tunda. Si B mengiyakan namun namun waktunya kapan belum ditentukan.

Pada saat pembicaraan berlangsung soal kapan waktu yang tepat untuk pergi, tiba-tiba handphone milik si B berbunyi. Nada deringnya meniru suara jangkrik. Tak berapa lama si B lantas pamitan kepada teman-temannya (termasuk si A) karena ada janji dengan orang lain.

Si A pun spontan buru-buru menawari si B untuk pergi ke rumah dosen besok saja. Ia takut kalau si B nantinya lupa akan hal ini.

“Jangko besok, sibuk ka’! (jangan besok, besok saya sibuk!),”jawab si B tanpa berpikir panjang.

Sontak satu tongkrongan langsung menyambut jawaban si B dengan tawa yang tidak berperikemanusiaan, jauh dari norma-norma Pancasila, dan sudah keluar dari Garis-Garis Besar Haluan Negara.

“Sibuk apa ko kau, sibuk nongkrong? (kamu sibuk apa, sibuk nongkrong?),” sundul salah seorang di antaranya.

Begitu logika dominan (mainstream) berbicara. Sibuk selalu merujuk pada aktivitas yang teramat padat (kerja) demi untuk memperoleh bayaran.

Tapi kalau di[ikir-pikir toh tak salah juga jika si B beranggapan bahwa nongkrong adalah waktu sibuk bagi dia. Hanya bila sibuknya logika mainstream bertujuan untuk mendaptkan uang, penghargaan, pengakuan atau apalah. Maka sibuknya si B bertujuan untuk mendapatkan sesuatu semisal penambahan pengetahuan, informasi, atau paling tidak dapat mempererat hubungan sosialnya. Sebab rasa-rasanya tak ada ukuran pasti yang bisa menilai mana yang lebih penting.

Bisa jadi begitu runut pemikiran si B. Bisa juga tidak, sebab si B hanyalah seorang mahasiswa yang kecanduan nongkrong dan butuh di rehabilitasi.

Yang pasti, biar lebih jelas silahkan tanyakan sendiri ke yang bersangkutan yang kini terdaftar sebagai pegawai honor instansi pemerintah di salah satu Kabupaten di Sulawesi Selatan. Nomor teleponnya: “lain kali aja kali yeee……”

4 Comments

    sy menjadi saksi sejarah terjadix peristiwa ketawa yg jauh dari norma-norma Pancasila, dan sudah keluar dari Garis-Garis Besar Haluan Negara. kalo boleh tahu siapakah yg membuat ini tulisan??

  • penulis nongkrong adalah Victor Sosang…maaf belum sempat mencntumkan nama penulis…

  • Saya suka tulisan ini. Ada begitu banyak bakat menulis hebat di komunikasi unhas. salut sama Sosang…

  • mas viktor sosang, kak adi
    angk 2002, sebentar lagi selesai dia

Leave a Reply