Ketika Sudut Pandang Justru Menggelisahkan; Inglorius Bastards dan Parodi Perang yang Memilukan
Setidaknya Hitler menjadi benar-benar hidup dari citra-citra yang sesuai sebagaimana pikiran Gobbles. Lelaki kecil yang seluruh keluarganya telah menerima perlakuan buruk kaum Yahudi Jerman sejak lama, dan mata yang telah sedari anak-anak melihat bagaimana perilaku Yahudi dalam keseharian penduduk Jerman. Hitler adalah satu suara dari banyak lainnya, yang menyimpan dendam yang besar terhadap bangsa keturunan nabi Musa itu.
Dan, dengan dendam yang besar itu juga yang menjadikannya seorang tiran, seorang dengan pandangan kebencian yang amat, dan dengan tegas berkata, bahwa Yahudi adalah anjing yang bermukim di Jerman demi satu alasan, untuk dihabisi. Dari Gobbles, pandangan kebenciannya mendapat tempat bermukim, dari pencitraan-pencitraan apik tentang wajah kebekuan yang menakutkan, kediaman yang mengerikan, kehendak yang menyeramkan.
Hitler dan Gobbles seolah menjadi representasi sempurna terhadap kebengisan dan kekejaman. Hanya orang itu kini, yang kerap dipandang amat menyemai Machiavelli begitu takzim, begitu mendalam, begitu merasuk. Dan itu betul terlihat. Sekian banyak fakta sejarah mengungkap kekejaman Nazi terhadap Yahudi, bertebaran dimana-mana, terkuak dari segala arah, sedang ladang-ladang pembakaran manusia masih menyisakan sisa-sisa tragis dari sebentuk filsafat adimanusia. Hitler benar-benar merapalkan janji dendam masa kecilnya. Membuat Yahudi meradang di sepanjang sejarah, bahkan ketika generasi-generasi mereka bercerita dalam produksi massal film-film tentang fase kelam Perang Dunia ke-II.
Saya juga, setidaknya menyangka kekejaman itu begitu getir, hingga Sang Maestro, Spielberg, juga mengangkat suara-suara yang terjajah dalam beberapa filmnya. Tetapi, dari kegetiran itulah kadang kebohongan bermula, dan sejarah hanya persoalan hati yang mengisahkan cara pandang yang sekenanya saja. Saya lalu berpikir, bahwa banyak film memang hanya tentang air mata dan pertunjukan tentang citra-citra penjahat yang terus-terusan dibangun. Kini judul-judul yang bercerita tentang kekejaman Nazi, keangkuhan dan kebengisan Hitler, pengecutnya prajurit Jerman, atau betapa tertindasnya keluarga Yahudi, mirisnya kehidupan keturunan Musa di rumahnya sendiri, dan betapa tak berdayanya bangsa pemilik tanah Kanaan di negeri Hitler, mendominasi stigma tentang Jerman masa Hitler yang begitu, ‘bangsat’.
Setidaknya, saya pernah menyangka, bahwa bagaimanapun cara Hollywood melihat masa 1900-an, maka yang tampak adalah citra buruk tentang bangsa Jerman di bawah Hitler. Tetapi, saya melihat cara bercerita lain, saat sudut pandang Amerika dihadirkan dalam ‘Inglorious Bastards‘. Ya, perang memang selalu buruk, tak ada yang dapat memungkiri itu, tetapi mengatakan bahwa hanya satu pihak yang melakukan kekejaman terhadap yang lain, tunggu dulu, tahan dulu, karena wajah perang adalah pergulatan tentang membunuh atau dibunuh, menikan atau ditikam, menghancurkan atau dihancurkan!
Dalam cara-cara yang tak lazim, Inglorious Bastards justru menghadirkan perang sebagai parodi, yang memalukan, memilukan, tetapi begitu menggelisahkan. Dan, disanalah kira-kira, keamerikaan dan kejermanan itu ditertawai. Bahwa peran-peran yang dilakoni oleh keduanya sekedar cemoohan dan olok-olok tentang manusia yang mengimajinasi bahwa nasionalisme itu punya tempat. Hitler yang bengis, ternyata adalah citra yang gampang dikibuli, Gobbles yang briliant, hanya seorang pelawak bertampang sangar yang berhati mawar.
Dan, disanalah Amerika Sang Penolong, yang bijak, yang peduli, ditampilkan sama lucu dan bengisnya sebagaimana yang dapat diamati tentang keburukan Hitler dan pasukan Nazi-nya. Inglorious Bastards, tampil sebagai kelompok Yahudi Amerika yang hendak melancarkan balas dendam terhadap Jerman di Perancis. Orang-orang yang telah menerima perlakuan buruk dari tentara-tentara Nazi, dan ingin tampil sebagai Rambo yang perkasa di tanah jajahan Jerman.
Maka tak ayal, Letnan Aldo Raine mengumpulkan orang-orang terjajah itu, membentuknya dalam satu kesatuan prajurit Amerika, dan melancarkan serangan sembunyi-sembunyi terhadap tentara-tentara Nazi, dimanapun. Seperti cerita-cerita dalam novel yang dibuat dalam beberapa chapter, Inglorious Bastards menghadirkan sebuah situasi seolah rangkaian historis dari hari-hari kejatuhan Jerman dan terbunuhnya semua petinggi Nazi, termasuk Hitler dan Gobbles.
Hanya saja, film itu terkesan dihadirkan dengan sikap kepahlawanan yang – secara sengaja – dibuat-buat. Backsound dalam film, dibentuk, sedemikian rupa dalam ingatan-ingatan tentang alur musik untuk menggambarkan militer dan pasukan elit yang gagah dan berani dalam film-film Hollywood kebanyakan, tetapi sekalian menjadi parodi dan olok-olok. Dan, seperti film-film Hollywood lainnya yang mempertontonkan kekerasan yang begitu terbuka, Film ini menunjukkan bagaimana pasukan Inglorious Bastards menguliti kepala para tentara Jerman, memukuli kepala seorang petinggi pasukan Nazi dengan tongkat baseball hingga hancur, atau juga menembaki Hitler dan Gobbles dengan senjata berat, sedemikian rupa hingga wajah dan tubuh mereka tak lagi berbentuk.
Dengan cara itu juga Amerika dan Yahudi digambarkan, membuat kesan perkasa terhadap Amerika dan Yahudi, tetapi sekedar keperkasaan yang sama bengisnya dengan yang dimiliki oleh Jerman. Ya, kelompok Bastards tampil sebagai pahlawan, tetapi kepahlawanan yang sama busuknya dengan kehendak Hitler atau juga Gobbles. Ya, para bangsat itu memang memenangkan perang, tetapi dalam cara-cara dan negosiasi yang tidak dituturkan sepenuhnya dalam kisah sejarah.
Melalui lakon Kolonel Hans Landa, representasi kecerdasan elit Jerman ditampakkan begitu indah, tetapi sama memalukannya dalam tragedi nasionalisme yang dikhianati. Dari Landa, apa yang kerap disapa sebagai ketundukan penuh terhadap Hitler dan ras Arya, hanya tentang kekuasaan dan cara-cara untuk mendapatkannya. Landa bukanlah seorang pembenci Yahudi atau Amerika, atau seorang nasionalis yang benar-benar mendalami makna menjadi Jerman sejati. Ia masih melepaskan Shosanna si gadis kecil Yahudi dari pembantaian besar di salah satu rumah warga Perancis, Ferrier LaPadite. Dan darinya, kelanjutan kuasa Nazi harus rela berakhir, setelah negosiasi panjang dengan elit Inglorious Bastards, yang tertangkap oleh kecerdasannya.
Dari lakon Landa, parodi tentang nasionalisme itu tergambar, begitu memalukan bagi bangsa Jerman, tetapi sama tak mengharukannya kemenangan Amerika dan Yahudi itu, bila dituturkan. Inglorious Bastards serasa menertawai keduanya, sekalian menertawai dirinya sendiri. Bahwa dari kisah kepahlawanan mereka, tersimpan gagasan yang sama kejinya dengan musuh-musuhnya, sama tak berharganya dengan sikap kebencian yang bermukim dalam rupa kecintaan terhadap tanah air dalam segala bentuk. Dan, betapa buramnya pandangan sejarah yang diterima hari ini.

