Gocek, oper, one-two, tendang, goooll…!!!
Oleh : Eeduy_Haw
Minggu sore.
Seperti biasanya, gedung Ex-GORO yang terletak di kawasan Jl A. P. Pettarani selalu ramai dikunjungi orang-orang. Mereka utamanya barisan Adam yang datang dengan menenteng perlengkapan olahraga.
Kemeja diganti kaos. Celana panjang ditukar celana pendek. Kaos kaki dan sepatu kets dikenakan. Warming-up sebentar, peluit pun dibunyikan.

yg motret ini siapa yah?
Futsal, miniatur sepakbola sebab hanya melibatkan pemain 5 lawan 5. Setahun terakhir, gedung Ex-GORO di fungsikan untuk memainkan permainan yang akhir-akhir ini makin populer. Dulunya, gedung ini adalah pusat perbelanjaan bernama GORO yang dikelola oleh pengusaha Nurdin Halid. Entah mengapa dan bagaimana ceritanya, usaha ini gulung tikar. Tinggallah GORO kosong-melompong tanpa aktivitas apa-apa di dalamnya.
Si pemilik Futsal Center mungkin melihat peluang bisnis bagus terhadap gedung ini. Ia merenovasi sedikit beberapa bagian lalu membaginya menjadi empat petak lapangan bola mini. Dinding dan langit-langit tiap bagian disekat dengan anyaman tali yang biasa digunakan ibu-ibu membuat tali jemuran. Lantainya ia lapisi dengan bahan tertentu dimana lapisan tertatas adalah rajutan tali-rafia.
Fasilitasnya lumayan lengkap. Biar tak seperti dipanggang di dalam oven, ruangan dipasangi Air Conditioner. Setiap sudut terdapat speaker yang biasa dipakai pengelola untuk menyampaikan pemberitahuan sekaligus memutarkan lagu-lagu pengiring permainan semisal Starlight-nya Muse atau Aku Jatuh Cinta-nya Mulan Jameela. Fasilitas bathroom, mini-market serta ruang internet tak ketinggalan.
Maka rasa-rasanya lengkaplah segala kenyamanan dalam urusan menendang si kulit bundar di tempat yang kemudian diberi nama Futsal Center Ex-GORO.
* * *
Mereka yang pernah hidup di kawasan Pettarani di dekade 90-an mungkin tak pernah menyangka area ini berkembang begitu cepatnya. “Dulu, memandang ke selatan dari arah rumah saya, maka IKIP pun kelihatan,” urai Udin salah-satu penduduk yang telah puluhan tahun tinggal di kawasan ini.
“Hanya sawah yang membatasi rumah saya dan IKIP, tak ada bangunan lain termasuk Ex-GORO. Itulah mengapa atap-atap IKIP akan kelihatan meskipun jauhnya mungkin kurang-lebih 2 km,” lanjutnya.
Menyusuri Jl. A. P. Pettarani dari arah utara, maka rumah Udin yang terletak di Kelurahan Tamamaung tergolong kawasan paling awal yang akan dijumpai. Baru setelah berjalan ke arah selatan sejauh yang disebutkan Udin di atas, maka berturut-turur kita kemudian menjumpai kawasan Jl. Hertasning, bangunan Ex-GORO lalu Kampus IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan) yang sekarang berganti nama Universitas Negeri Makassar (UNM).
Orang-orang yang tinggal di kelurahan ini membenarkan omongan Udin. Apalagi mereka yang tergolong penduduk asli yang rata-rata suku Makassar. Dalam sejarah, tadinya sawah-sawah itu miliknya. Seiring laju zaman, satu demi satu sawah itu dijual ke pemerintah atau pengusaha.
Di dekade 90-an, Pettarani hanyalah kawasan pingiran kota. Bisa dibilang ujung paling luar kota Makassar. Konon kabarnya area ini dipakai orang-orang jahat membuang mayat korban pembunuhan.
Sawah adalah lahan mata pencaharian bagi penduduk sekitar waktu itu. Ketika musim penghujan tiba, maka hamparan padi yang hijau menjuntai luas memenuhi kiri-kanan jalan, terus hingga ke IKIP. Bocah-bocah ingusan lantas ramai berburu roya-roya (sejenis burung bangau yang hidup di sawah dalam bahasa setempat) dengan ketapel. Burung ini sangat nikmat di bakar dan disantap dengan nasi hangat. Kompleks Panakkukang Mas, Mall Panakkukang, kawasan Hertasning pun tadinya hanyalah sawah.
Saat musim kemarau tiba, ketika panen telah usai, hamparan padi lalu berganti tanah kosong yang lapang menunggu musim penghujan datang. Saat-saat inilah sawah-sawah ini dimanfaatkan anak-anak dan orang dewasa bermain bola. Tiang-tiang bambu didirikan menjadi gawang. Tentu dulu Futsal belum ada. Yang ada sepakbola yang dimainkan 11 lawan 11, bahkan 15 lawan 15 sekalipun. Tak perlu heran, sebab luas lapangan memang naudzubillah, sekampung lawan sekampung juga jadi.
Ex-GORO adalah salah-satu dari sekian lapangan bola ini. Jadi, kalau dipikir-pikir keakraban Ex-GORO dengan sepakbola sudah terjalin sejak lama. Hanya saja, kini persahabatan mereka sedikit dimodifikasi, dijalin berdasarkan azas ekonomi.
Kalau dulunya sore-sore bermain bola di bawah atap langit, kini dipindahkan ke dalam ruangan. Kalau dulunya sejuk dengan hembusan angin sepoi-sepoi, kini sejuk dengan Air Conditioner. Kalau dulu tiang-gawangnya dari bambu, kini dari besi. Kalau dulu rumputnya asli rerumputan (nama biologi????), kini plastik bahan sintesis. Kalau dulunya keringat itu gratis, kini bayar!
Laju zaman dengan logika kapital memang demikian. Ilmu pengatahuan dan teknologi adalah tuhan. Industrialisasi adalah satu-satunya sistem mumpuni yang terpercaya untuk menghantar ke peradaban yanga lebih maju. Masyarakat agararis harus beranjak ke masyarakat indusrtri. Sawah terlihat canggung di tengah kota, gantilah ia dengan gedung perkantoran atau rumah toko. Jangan jadi petani di tengah kota, jadilah enterpreneur kata pakar ekonom. Di kota, jangan ternak sapi kata seorang antropolog, ternaklah mobil.
Gerak kota memang gesit. Saking gesitnya, Udin– yang Ayahnya dulu memiliki sebidang sawah di kawasan Pettarani– kini tak habis pikir kok sekarang dalam kurun waktu yang relatif singkat, ia jadi tukang parkir di atas bekas lahan bapaknya dimana sekarang di sekitarnya tumbuh Fed Ex, Pizza Ria Kafe, Hotel Denpasar, dan Mall Panakkukang.
Bila memandang ke selatan, kawasan Pettarani tak lagi seperti cerita Udin. IKIP tak lagi kelihatan. Sawah-sawah berganti gedung-gedung. Tiang gawang dari bambu entah ke mana. Roya-roya kegemaran bocah-bocah ingusan hilang. Cerita Udin seperti dongeng pengantar tidur semata.
* * *
Sebuah suara yang mirip bunyi klakson tronton mengagetkan telinga bersamaan dengan angka 00:00 yang tertera pada timer dinding lapangan 3 gedung Ex-GORO. Orang-orang di dalam lapangan seta-merta menghentikan permainan. Sebagian lantas memilih duduk di bangku untuk sejenak melepas lelah, sebagian lain memilih langsung ke bathroom membersihkan badan. Setelah selesai, salah seorang di antara mereka mampir sejenak ke meja kasir, sementara yang lain langsung terus ke parkiran.
Perkenalan Ex-GORO dengan si kulit bundar sebenarnya bukan yang pertama kali. Hanya saja, ada yang telah sedikit berubah dengan persahabatan mereka.


Rahe… siapa yang menulis ini?
kak yudi kayaknya…