<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>tamalanreaschule</title>
	<atom:link href="http://tamalanreaschule.web.id/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tamalanreaschule.web.id</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 14 Jan 2010 12:27:04 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Ketika Sudut Pandang Justru Menggelisahkan; Inglorius Bastards dan Parodi Perang yang Memilukan</title>
		<link>http://tamalanreaschule.web.id/ketika-sudut-pandang-justru-menggelisahkan-inglorius-bastards-dan-parodi-perang-yang-memilukan/</link>
		<comments>http://tamalanreaschule.web.id/ketika-sudut-pandang-justru-menggelisahkan-inglorius-bastards-dan-parodi-perang-yang-memilukan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Dec 2009 12:28:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>benietzsche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[Spesial TaS']]></category>
		<category><![CDATA[Amerika]]></category>
		<category><![CDATA[Army]]></category>
		<category><![CDATA[Gobbles]]></category>
		<category><![CDATA[Hitler]]></category>
		<category><![CDATA[Jerman]]></category>
		<category><![CDATA[Nazi]]></category>
		<category><![CDATA[PD]]></category>
		<category><![CDATA[PD 1]]></category>
		<category><![CDATA[PD 2]]></category>
		<category><![CDATA[Perang Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[SS]]></category>
		<category><![CDATA[Yahudi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tamalanreaschule.web.id/?p=192</guid>
		<description><![CDATA[
Setidaknya Hitler menjadi benar-benar hidup dari citra-citra yang sesuai sebagaimana pikiran Gobbles. Lelaki kecil yang seluruh keluarganya telah menerima perlakuan buruk kaum Yahudi Jerman sejak lama, dan mata yang telah sedari anak-anak melihat bagaimana perilaku Yahudi dalam keseharian penduduk Jerman. Hitler adalah satu suara dari banyak lainnya, yang menyimpan dendam yang besar terhadap bangsa keturunan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="text-indent: 0.19in;margin-bottom: 0in" align="JUSTIFY"><img class="alignleft" src="http://westdaletheatre.files.wordpress.com/2009/08/inglorious-basterds-1-477x699.jpg" alt="" width="163" height="238" />Setidaknya Hitler menjadi benar-benar hidup dari citra-citra yang sesuai sebagaimana pikiran Gobbles. Lelaki kecil yang seluruh keluarganya telah menerima perlakuan buruk kaum Yahudi Jerman sejak lama, dan mata yang telah sedari anak-anak melihat bagaimana perilaku Yahudi dalam keseharian penduduk Jerman. Hitler adalah satu suara dari banyak lainnya, yang menyimpan dendam yang besar terhadap bangsa keturunan nabi Musa itu.</p>
<p style="text-indent: 0.19in;margin-bottom: 0in" align="JUSTIFY">Dan, dengan dendam yang besar itu juga yang menjadikannya seorang tiran, seorang dengan pandangan kebencian yang amat, dan dengan tegas berkata, bahwa Yahudi adalah anjing yang bermukim di Jerman demi satu alasan, untuk dihabisi. Dari Gobbles, pandangan kebenciannya mendapat tempat bermukim, dari pencitraan-pencitraan apik tentang wajah kebekuan yang menakutkan, kediaman yang mengerikan, kehendak yang menyeramkan.</p>
<p style="text-indent: 0.19in;margin-bottom: 0in" align="JUSTIFY">Hitler dan Gobbles seolah menjadi representasi sempurna terhadap kebengisan dan kekejaman. Hanya orang itu kini, yang kerap dipandang amat menyemai Machiavelli begitu takzim, begitu mendalam, begitu merasuk. Dan itu betul terlihat. Sekian banyak fakta sejarah mengungkap kekejaman Nazi terhadap Yahudi, bertebaran dimana-mana, terkuak dari segala arah, sedang ladang-ladang pembakaran manusia masih menyisakan sisa-sisa tragis dari sebentuk filsafat adimanusia. Hitler benar-benar merapalkan janji dendam masa kecilnya. Membuat Yahudi meradang di sepanjang sejarah, bahkan ketika generasi-generasi mereka bercerita dalam produksi massal film-film tentang fase kelam Perang Dunia ke-II.</p>
<p style="text-indent: 0.19in;margin-bottom: 0in" align="JUSTIFY">Saya juga, setidaknya menyangka kekejaman itu begitu getir, hingga Sang Maestro, Spielberg, juga mengangkat suara-suara yang terjajah dalam beberapa filmnya. Tetapi, dari kegetiran itulah kadang kebohongan bermula, dan sejarah hanya persoalan hati yang mengisahkan cara pandang yang sekenanya saja. Saya lalu berpikir, bahwa banyak film memang hanya tentang air mata dan pertunjukan tentang citra-citra penjahat yang terus-terusan dibangun. Kini judul-judul yang bercerita tentang kekejaman Nazi, keangkuhan dan kebengisan Hitler, pengecutnya prajurit Jerman, atau betapa tertindasnya keluarga Yahudi, mirisnya kehidupan keturunan Musa di rumahnya sendiri, dan betapa tak berdayanya bangsa pemilik tanah Kanaan di negeri Hitler, mendominasi stigma tentang Jerman masa Hitler yang begitu, &#8216;bangsat&#8217;.</p>
<p style="text-indent: 0.19in;margin-bottom: 0in" align="JUSTIFY">Setidaknya, saya pernah menyangka, bahwa bagaimanapun cara Hollywood melihat masa 1900-an, maka yang tampak adalah citra buruk tentang bangsa Jerman di bawah Hitler. Tetapi, saya melihat cara bercerita lain, saat sudut pandang Amerika dihadirkan dalam &#8216;<em>Inglorious Bastards</em>&#8216;. Ya, perang memang selalu buruk, tak ada yang dapat memungkiri itu, tetapi mengatakan bahwa hanya satu pihak yang melakukan kekejaman terhadap yang lain, tunggu dulu, tahan dulu, karena wajah perang adalah pergulatan tentang membunuh atau dibunuh, menikan atau ditikam, menghancurkan atau dihancurkan!</p>
<p style="text-indent: 0.19in;margin-bottom: 0in" align="JUSTIFY">Dalam cara-cara yang tak lazim, <em>Inglorious Bastards</em> justru menghadirkan perang sebagai parodi, yang memalukan, memilukan, tetapi begitu menggelisahkan. Dan, disanalah kira-kira, keamerikaan dan kejermanan itu ditertawai. Bahwa peran-peran yang dilakoni oleh keduanya sekedar cemoohan dan olok-olok tentang manusia yang mengimajinasi bahwa nasionalisme itu punya tempat. Hitler yang bengis, ternyata adalah citra yang gampang dikibuli, Gobbles yang briliant, hanya seorang pelawak bertampang sangar yang berhati mawar.</p>
<p style="text-indent: 0.19in;margin-bottom: 0in" align="JUSTIFY">Dan, disanalah Amerika Sang Penolong, yang bijak, yang peduli, ditampilkan sama lucu dan bengisnya sebagaimana yang dapat diamati tentang keburukan Hitler dan pasukan Nazi-nya. Inglorious Bastards, tampil sebagai kelompok Yahudi Amerika yang hendak melancarkan balas dendam terhadap Jerman di Perancis. Orang-orang yang telah menerima perlakuan buruk dari tentara-tentara Nazi, dan ingin tampil sebagai Rambo yang perkasa di tanah jajahan Jerman.</p>
<p style="text-indent: 0.19in;margin-bottom: 0in" align="JUSTIFY">Maka tak ayal, Letnan Aldo Raine mengumpulkan orang-orang terjajah itu, membentuknya dalam satu kesatuan prajurit Amerika, dan melancarkan serangan sembunyi-sembunyi terhadap tentara-tentara Nazi, dimanapun. Seperti cerita-cerita dalam novel yang dibuat dalam beberapa chapter, Inglorious Bastards menghadirkan sebuah situasi seolah rangkaian historis dari hari-hari kejatuhan Jerman dan terbunuhnya semua petinggi Nazi, termasuk Hitler dan Gobbles.</p>
<p style="text-indent: 0.19in;margin-bottom: 0in" align="JUSTIFY">Hanya saja, film itu terkesan dihadirkan dengan sikap kepahlawanan yang &#8211; secara sengaja &#8211; dibuat-buat. Backsound dalam film, dibentuk, sedemikian rupa dalam ingatan-ingatan tentang alur musik untuk menggambarkan militer dan pasukan elit yang gagah dan berani dalam film-film Hollywood kebanyakan, tetapi sekalian menjadi parodi dan olok-olok. Dan, seperti film-film Hollywood lainnya yang mempertontonkan kekerasan yang begitu terbuka, Film ini menunjukkan bagaimana pasukan <em>Inglorious Bastards</em> menguliti kepala para tentara Jerman, memukuli kepala seorang petinggi pasukan Nazi dengan tongkat baseball hingga hancur, atau juga menembaki Hitler dan Gobbles dengan senjata berat, sedemikian rupa hingga wajah dan tubuh mereka tak lagi berbentuk.</p>
<p style="text-indent: 0.19in;margin-bottom: 0in" align="JUSTIFY">Dengan cara itu juga Amerika dan Yahudi digambarkan, membuat kesan perkasa terhadap Amerika dan Yahudi, tetapi sekedar keperkasaan yang sama bengisnya dengan yang dimiliki oleh Jerman. Ya, kelompok Bastards tampil sebagai pahlawan, tetapi kepahlawanan yang sama busuknya dengan kehendak Hitler atau juga Gobbles. Ya, para bangsat itu memang memenangkan perang, tetapi dalam cara-cara dan negosiasi yang tidak dituturkan sepenuhnya dalam kisah sejarah.</p>
<p style="text-indent: 0.19in;margin-bottom: 0in" align="JUSTIFY">Melalui lakon Kolonel Hans Landa, representasi kecerdasan elit Jerman ditampakkan begitu indah, tetapi sama memalukannya dalam tragedi nasionalisme yang dikhianati. Dari Landa, apa yang kerap disapa sebagai ketundukan penuh terhadap Hitler dan ras Arya, hanya tentang kekuasaan dan cara-cara untuk mendapatkannya. Landa bukanlah seorang pembenci Yahudi atau Amerika, atau seorang nasionalis yang benar-benar mendalami makna menjadi Jerman sejati. Ia masih melepaskan Shosanna si gadis kecil Yahudi dari pembantaian besar di salah satu rumah warga Perancis, Ferrier <span style="font-style: normal">LaPadite</span>. Dan darinya, kelanjutan kuasa Nazi harus rela berakhir, setelah negosiasi panjang dengan elit <em>Inglorious Bastards,</em> yang tertangkap oleh kecerdasannya.</p>
<p style="text-indent: 0.19in;margin-bottom: 0in" align="JUSTIFY">Dari lakon Landa, parodi tentang nasionalisme itu tergambar, begitu memalukan bagi bangsa Jerman, tetapi sama tak mengharukannya kemenangan Amerika dan Yahudi itu, bila dituturkan. Inglorious Bastards serasa menertawai keduanya, sekalian menertawai dirinya sendiri. Bahwa dari kisah kepahlawanan mereka, tersimpan gagasan yang sama kejinya dengan musuh-musuhnya, sama tak berharganya dengan sikap kebencian yang bermukim dalam rupa kecintaan terhadap tanah air dalam segala bentuk. Dan, betapa buramnya pandangan sejarah yang diterima hari ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamalanreaschule.web.id/ketika-sudut-pandang-justru-menggelisahkan-inglorius-bastards-dan-parodi-perang-yang-memilukan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tiga Doa Tiga Cinta dan Stereotype Tentang Dunia Islam</title>
		<link>http://tamalanreaschule.web.id/tiga-doa-tiga-cinta-dan-stereotype-tentang-dunia-islam/</link>
		<comments>http://tamalanreaschule.web.id/tiga-doa-tiga-cinta-dan-stereotype-tentang-dunia-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Dec 2009 04:30:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>benietzsche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Globalisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Glokalisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Islam Abangan]]></category>
		<category><![CDATA[Mistic Synthesis]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[Semiotika]]></category>
		<category><![CDATA[Sinopsis]]></category>
		<category><![CDATA[Terorisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tamalanreaschule.web.id/?p=188</guid>
		<description><![CDATA[“Islam di Indonesia tak pernah monolitik.” Demikian ujar Eric Sasono saat menyajikan ulasannya mengenai Tiga Doa Tiga Cinta (www.rumahfilm.org, 1 Januari 2009). Bagi Sasono, 3 Doa tidak saja mampu menghadirkan sebuah keseharian Islam yang sederhana, tetapi juga tidak terlalu repot dalam menyajikan Islam itu, bahkan ketika ia memiliki pilihan untuk mengabarkannya dengan detail yang sungguh-sungguh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Islam di Indonesia tak pernah monolitik.” Demikian ujar Eric Sasono saat menyajikan ulasannya mengenai Tiga Doa Tiga Cinta (www.rumahfilm.org, 1 Januari 2009). Bagi Sasono, 3 Doa tidak saja mampu menghadirkan sebuah keseharian Islam yang sederhana, tetapi juga tidak terlalu repot dalam menyajikan Islam itu, bahkan ketika ia memiliki pilihan untuk mengabarkannya dengan detail yang sungguh-sungguh tentang dunia pesantren.</p>
<p>Seperti kesederhanaan pembuatnya saat menghadirkan Islam ke dalam perbincangan, maka Tiga Doa Tiga Cinta juga, seakan tidak memersoalkan kapasitas pengetahuan penontonnya. Dengan kesederhanaan penyajian, Nurman, yang menjadi sutradara dalam film ini, melihat Islam benar-benar dalam wajahnya yang tak lagi perlu diperkenalkan lebih jauh. Islam hanya harus diketahui dalam kronika, dalam persilangan, dalam kelokalan yang terus hadir, dan selanjutnya, berbicara sendiri tanpa perlu diperkenalkan.</p>
<p>Makanya, menonton Tiga Doa Tiga Cinta, serasa menonton film Islam yang sungguh-sungguh. Tanpa kerepotan untuk mencari-cari, kesana-kemari, tentang apa sesungguhnya Islam itu, dan bagaimana dapat mengetahuinya berada dalam rangkaian cerita. Di film ini, Islam tidak saja terus tampil, tapi tampil berbeda. Ia hadir dalam tiap susunan cerita, meski dalam tubuh lain, sebuah tubuh lokalitas.</p>
<p>Dan, dalam tubuh itulah Islam menguasai jalannya cerita, yang dituturkan melalui lakon tiga tokoh. Huda, seorang lelaki tampan yang sedang mencari Ibunya; Rian, santri kelas menengah yang mengidamkan bisa menjadi seorang tukang film; dan Sahid, lelaki miskin sholeh yang telah terasuki gagasan-gagasan kebencian tentang Barat dan yang berhubungan dengannya, dari seorang guru di dalam pesantren.</p>
<p>Di film ini, yang bernama sudut pandang, laiknya kamera film yang diidamkan Rian, adalah tentang subjektifitas melihat. Karena, dari cara pandang berbeda, persoalan dapat terlihat begitu lain, tak sama, atau justru, berlawanan. Bila cara pandang telah terkondisi oleh kebiasaan, maka yang ada sekedar stereotype, pandangan umum yang terlalu generalis.</p>
<p>Tiga Doa Tiga Cinta seperti mengajari kita cara melihat itu, dan bagaimana cara melihat itu dapat melahirkan berbagai akibat, yang beberapa darinya dapat sangat fatal. Huda, walhasil melihat sesuatu yang berbeda dari Donna Satelit, seorang penyanyi seksi yang sempat sekali mencium pipinya; Rian, mendapat cara pandang lain tentang dunia film, saat bertemu dengan seorang tukang film keliling; dan Sahid, akhirnya menemukan orang Barat baik, dari gambarannya selama ini yang buruk tentang Barat dan orang-orangnya.</p>
<p>Tiga Doa Tiga Cinta, membuat kita belajar untuk tak menyimpulkan, belajar untuk membiasakan diri untuk mengenal lebih jauh setiap sesuatu yang terpaksa di universalisasi, atau digeneralisasi. Begitu juga seharusnya Islam diposisikan. Apa yang dilakoni Sahid, sekedar keberagamaan yang jujur, sebuah ketaatan yang terus saja datang berjibaku dari kesalehan. Sahid mempelajari Islam dalam ketaatan itu, dalam pencarian yang terus-menerus, meski menciptakan generalisasi pandangannya yang buruk dalam memaknai Barat dan Amerika.</p>
<p>Jadinya, dalam pandangan itulah Islam melihat dan dilihat sekalian. Di satu sisi, ia melihat Barat sebagai yang zalim, yang menindas, yang menyengsarakan umat muslim di banyak penjuru dunia. Sementara, Barat sendiri, memandang Islam sebagai teroris, fundamentalis beragama, atau juga ekstrimis-militant bodoh yang tak pernah belajar humanisme.</p>
<p>Dari sosok Huda, pandangannya bisa jadi berubah saat Donna Satelit telah dikenalinya sedikit lebih lama. Ia tidak menutup mata, sebagaimana yang akan dilakukan oleh para pemeluk agama yang taat. Melalui cara yang tak juga dapat dikatakan menentang aturan beragama, ia berhasil melihat Donna dalam cara berbeda.</p>
<p>Tapi, memang seperti itulah tampaknya para lakon dalam film ini hendak dihadirkan. Sebentuk ruang pesantren Indonesia yang, meminjam perbendaharaan Sasono, “amat akrab”, yang membuat mereka yang berada di dalam pesantren, tidak hanya belajar dari nilai-nilai pesantren, tetapi dari sekian banyak praktik yang selalu saja melingkupi pesantren itu, begitu dekat.</p>
<p>Dari Tiga Doa Tiga Cinta, pertemuan antara yang Barat dan Timur itu bertemu, dalam berbagai cara, saat pandangan dan stereotype itu begitu digdaya. Dalam cara itulah dialog berlangsung, sebuah momen yang menyiratkan betapa individu itu dapat lahir dalam perbedaan perilaku yang keluar dari sekedar kelaziman pandangan umum.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamalanreaschule.web.id/tiga-doa-tiga-cinta-dan-stereotype-tentang-dunia-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Islam dalam Film Indonesia Pasca Orba</title>
		<link>http://tamalanreaschule.web.id/islam-dalam-film-indonesia/</link>
		<comments>http://tamalanreaschule.web.id/islam-dalam-film-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Dec 2009 16:56:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>benietzsche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Spesial TaS']]></category>
		<category><![CDATA[Discourse]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Film Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Foucoult]]></category>
		<category><![CDATA[Genealogi]]></category>
		<category><![CDATA[Islam Abangan]]></category>
		<category><![CDATA[Islam dalam Film Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Islam Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kemiskinan]]></category>
		<category><![CDATA[Mistic Synthesis]]></category>
		<category><![CDATA[Postcolonial]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi Film]]></category>
		<category><![CDATA[Semiotika]]></category>
		<category><![CDATA[Semiotika Film]]></category>
		<category><![CDATA[Sinopsis]]></category>
		<category><![CDATA[Subaltern]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tamalanreaschule.web.id/?p=176</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Benietzsche
Jejak-jejak Islam di nusantara tidak pernah sulit untuk ditemukan. Bahkan dalam kebudayaan manusia yang belum lagi mengenali istilah modern dan menjadi modern, Islam tumbuh dan berkembang sebagai penghayatan yang luruh dalam kesemestaan kebudayaan di nusantara. Begitu juga yang terjadi ketika kolonialisme bertindak sebagai pengatur permainan tanda dalam masyarakat nusantara, dan koloni bangsa yang bernama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Benietzsche</strong></p>
<p>Jejak-jejak Islam di nusantara tidak pernah sulit untuk ditemukan. Bahkan dalam kebudayaan manusia yang belum lagi mengenali istilah modern dan menjadi modern, Islam tumbuh dan berkembang sebagai penghayatan yang luruh dalam kesemestaan kebudayaan di nusantara. Begitu juga yang terjadi ketika kolonialisme bertindak sebagai pengatur permainan tanda dalam masyarakat nusantara, dan koloni bangsa yang bernama Indonesia tercipta, Islam bukan aspek yang tak hadir. Secara terus-menerus, Islam diisi dan terisi dengan berbagai makna, menghadirkan keragaman dari wajah tiap pelakonnya dalam ruang sosial, dalam atribut nilai yang mudah dikenali.</p>
<p><img class="alignnone" src="http://arijuliano.files.wordpress.com/2008/12/3wishes3loves1.jpg" alt="" width="150" height="198" /><img class="alignnone" src="http://izziblog.files.wordpress.com/2009/01/wanita-berkalung-sorban.jpg" alt="" width="137" height="197" /><img class="alignnone" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/4/4b/Rindu_Kami_PadaMu_sampul_Indonesia.jpg" alt="" width="135" height="196" /><img class="alignnone" src="http://3.bp.blogspot.com/_DJtVsJni9WE/SQ5OZwnX8TI/AAAAAAAAAZ4/_4jac3WCKvI/s400/kunfayakun.jpg" alt="" width="149" height="200" />Tetapi, adakah Islam Indonesia, adalah kegelisahan yang terus tumbuh dari kontestasi keragaman tafsir, yang lahir dalam pergulatan panjang. Islam berkembang di nusantara dari riak-riak politik dari iklim global sejak awal, dan tak berhenti ketika definisi tentang Islam Indonesia coba ditemukan oleh; Garin Nugroho dalam Rindu Kami Padamu; oleh Hanung Bramantyo dalam sosok seperti sahabat Madrim dalam Doa Yang Mengancam; oleh Riri Riza dalam Laskar Pelangi dan Untuk Rena; atau gambaran keseharian hidup dunia pesantren dalam Tiga Doa Tiga Cinta.</p>
<p>Sebagai gagasan yang tumbuh ketika <em>mystic synthesis</em> lahir dari negosiasi kelokalan budaya nusantara di satu sisi dan “kehendak penyebarluasan Islam” di sisi lainnya, Islam Indonesia telah menampakkan kekhasan itu mewujud. Ia ada di sana, tengah bergumul dan mencari bentuk dalam negosiasinya secara terus-menerus, dan hendak hadir dalam bentuk yang benar-benar berbeda, tidak dari kedua sisi kebudayaan pembentuknya. Islam Indonesia, menjadi cerita yang coba menyajikan corak keberislaman yang awam, yang masih abangan, yang tidak melulu memersoalkan sekian banyak tabu dalam aturan-aturan formal keberagamaan.</p>
<p>Islam Indonesia, seperti yang dapat dilihat dalam Rindu Kami Padamu, adalah identitas Islam tanpa kubah, sebentuk Islam kultural yang tidak mengambil perbendaharaan bentuk-bentuk <em>signifie</em> dari kebudayaan Islam asal, melainkan mencari <em>signifie</em> baru bagi <em>signifiant</em>-<em>signifiant</em> Islam asal itu, Islam Indonesia adalah sebuah panorama tentang sinkretisme, sebentuk Islam sinkretik yang mencairkan tabu-tabu metafisis sebagai perbincangan yang jadi biasa-biasa, hingga menggugat Tuhan tidak lagi menjadi milik kebudayaan ateisme romantic dan absolut di Eropa, tetapi merengsek masuk dalam gugatan Madrim pada Doa yang Mengancam.</p>
<p>Islam Indonesia adalah Islam pasar, yang menjajakan tidak saja kebudayaannya sendiri, tetapi menarik apapun yang dapat disatukannya dalam relasi <em>signifie</em>-nya. Dalam Doa yang Mengancam, keriuhan pasar itu menjadi ruang yang melingkupi, tapi tak mendefinisikan apapun di dalamnya. Segalanya bergerak sendiri, dan membentuk identitas dalam kekayaan tafsir, termasuk ketika identitas keislaman itu dituturkan pada lakon Madrim dan sahabatnya. Begitu juga yang dapat diamati dalam Rindu Kami Padamu, kesan pada Islam yang khas Indonesia, yang tidak melulu berurusan pada <em>symbolic signifie</em>, membentuk tidak saja atribut keislaman yang berbeda, tetapi juga menciptakan relasi bebas atas kesepaduan Islam dan etnisitas.</p>
<p><img class="alignright" src="http://aespee.files.wordpress.com/2009/05/lp1.jpg" alt="" width="111" height="153" /><img class="alignright" src="http://www.tpi.tv/new/images/stories/program/Untuk%20Rena1.jpg" alt="" width="132" height="154" />Dalam bingkai lainnya tentang pergumulan itu, Laskar Pelangi, Untuk Rena, dan Tiga Doa Tiga Cinta, menarik sekian banyak peleburan yang telah berlangsung antara kebudayaan Islam dan kelokalan budaya nusantara dalam gambaran-gambaran cerita dari banyak lakon. Islam membuncah dari remang-remang, hampir tak terlihat, tapi menunjukkan bahwa ia berada di sana, dari kelokalan itu sendiri. Jadinya, apa yang dapat terbaca dari Sekolah Muhammadiyah dalam Laskar Pelangi, adalah sebuah indeks yang memerlihatkan jejak-jejak Islam yang telah lama hadir dan berjaya di ruang itu, meski modernisasi telah mengisi berbagai <em>signifie</em>-nya dengan ragam benda-benda tekhnologis.</p>
<p>Begitu juga yang dapat ditemukan di Untuk Rena, yang menyajikan simbol-simbol keislaman seperti siluet, hadir sekedar sebagai pengisi citra teks, dan berlalu cepat saat cerita dalam film mulai berlanjut. Untuk Rena menandai Islam yang kontekstual itu, dalam perkawinannya yang temaram dengan kelokalan budaya, dan lebih menekankan pada makna-makna intrinsik, makna-makna isi yang tanpa bentuk, atau sebuah kekosongan <em>signifie</em>, dalam kerangka Derrida.</p>
<p>Sementara, pada Tiga Doa Tiga Cinta, keseharian pesantren yang dihadirkan Nurman adalah sebuah jembatan untuk melihat leburnya Islam dalam aktifitas, dalam kondisi menjadi biasa-biasa, dari relasi signifikasi yang saling paradoks. Islam di Tiga Doa Tiga Cinta bukanlah Islam yang melulu datang dari dunia pesantren. Gambaran situasi yang terjadi di sekitar pesantren, menunjuk <em>signifie</em>-<em>signifie</em> yang mengambil term keagamaan pasar itu begitu dekat, sebuah ruang pelacuran yang dekat dengan masjid, gambaran tentang tubuh-tubuh seksi yang berdiri berpapasan bersama kesalehan, citra tekhnologi yang beradu dengan pantangan-pantangan pesantren pada yang modern, juga gerakan-gerakan ortodoks yang saling menyahuti gerakan-gerakan sufisme di dalam pesantren.</p>
<p>Islam tidak hadir sebagai wajah yang sepenuhnya ceria. Tersirat keburaman dalam <em>signifie</em>-<em>signifie</em> yang dipilih dalam penggalan-penggalan scene-nya, tetapi tetap optimis untuk menarik kesepaduan penggambaran tentang Islam sehari-hari, Islam yang dilakoni, Islam yang lahir dari arena sosial yang tidak sepenuhnya memegang asumsi-asumsi moral di dalamnya. Hanya saja, signifikasi Islam yang tergambar dalam wajah-wajah kultural tersebut, terdefinisi dan relatif menyiratkan <em>signifiant</em> kemiskinan yang terus menyalak pada subjek-subjek pelakonnya. Islam sehari-hari terus digiring dalam wajah-wajah miskin itu, membawa imaji-imaji yang terus meratap, senantiasa tergambar lirih pada pilihan-pilihan paradigmatic tentang Islam dari garis bawah.</p>
<p>Islam dan kemiskinan seperti begitu dekat, Ada artikulasi yang tergambar dari kemiskinan, masyarakat tradisional, dan corak keislamannya yang abangan. Nilai-nilai yang terbentuk, berkutat pada kelokalan Islam itu dalam perjuangannya melawan kemiskinan, secara vulgar, secara dominan. Dalam Rindu Kami Padamu dan Doa Yang Mengancam, kemiskinan itu hadir mengisi seluruh ruang pasar dan masjid; pada Kiamat Sudah Dekat, kemiskinan itu hadir dalam keluarga Saprol; pada Long Road To Heaven, kemiskinan itu remang-remang terbentuk sebagai latar dari radikalisme; dalam Mengaku Rasul, kemiskinan itu mengejewantah menjadi sikap tak rasional masyarakat dalam beragama; pada Kun Fa Yakun, kemiskinan itu terlihat berpendar dari keluarga Farid yang menjadi inti cerita; dan di Laskar Pelangi, kemiskinan itu ditempatkan bersebelahan dengan industri global yang menyeruak ke alam lokalitas.</p>
<p>Kemiskinan karenanya, menjadi sebab, menjadi latar dari beragam hal. Kemiskinan terbentuk sebagai <em>signifie</em> beku, meski diisi dengan ragam <em>signifiant</em> dalam ragam artikulasi. Tetapi, kemiskinan itu tetap membatu, tetap menyiratkan sepenggal kehadiran metafisik yang datang sebagai tindak Tuhan pada manusia. Kemiskinan terterima sebagai telah berada di sana, sebagai berada dalam <em>signifie</em> yang sama dengan kelokalan, sebagai berada bersama agama. Islam tradisional itu tidak ditampakkan sekedar sebagai kearifan, tetapi juga ketiadaan upaya, sebuah kondisi yang melibatkan narasi keislaman, tradisionalitas, dan kemiskinan, dalam satu permainan <em>signifie</em> yang sama.</p>
<p><img class="alignleft" src="http://2.bp.blogspot.com/_WPRbSygAa3k/SNUEmQrJEgI/AAAAAAAAAFA/eNtigaxVwAU/s400/kiamat-sudah-dekat.jpg" alt="" width="149" height="206" />Kemiskinan yang tampak, dan tradisionalitas yang gegap-gempita, menciptakan sebentuk perilaku radikal yang datang dari upaya-upaya pemurnian. Semacam kondisi untuk mengembalikan yang abangan, yang miskin, yang tradisional, untuk kembali pada yang asal, yang murni, yang ultima, meski yang murni itu disajikan sebagai satire, dan hanya berasal dari tradisionalitas yang miskin itu juga. Maka, terorisme menggejala dalam citra gambar beberapa film, dan pengkhianatan agama disajikan melalui kisah tentang nabi dan rasul-rasul palsu, tapi tetap saja sebagai satire. Long Road To Heaven dan Tiga Doa Tiga Cinta, adalah film-film yang menyorot teror sebagai buah dari bentuk radikalisme beragama; dan Mengaku Rasul, hadir dalam <em>signifiant</em> yang menarik relasi antara kemiskinan dan kebodohan beragama. Pada Long Road To Heaven, Islam disajikan dalam rupanya sebagai mimikri. Ia memersoalkan yang global saat beradu dengan yang kampungan, yang modern saat bertemu dengan yang tradisional, yang priayi saat berhadapan dengan yang abangan.</p>
<p>Begitupula saat Tiga Doa Tiga Cinta disimak, maka terorisme sekedar gagasan yang lahir dari keliaran gagasan pemeluk agama yang abangan. Terorisme tidak ditampilkan sebagai gagasan besar yang lahir dari ide-ide keagamaan, namun sekedar dari kekonyolan-kekonyolan pemuda pesantren yang masih gagap tekhnologi. Adakah terorisme lahir dari sebuah ide besar, tidak terjawab, dibiarkan mengambang dalam <em>signifie</em>-<em>signifie</em> yang hampa makna. Satu hal yang pasti, bahwa kemiskinan dan sikap tradisional itu yang menjadi latar, bisa jadi dibentuk sebagai sebab, sebuah awal, sebuah kondisi yang mengakibatkan yang lain untuk mendapat ruang cerita, sebuah <em>signifie</em> dengan <em>signifiant</em> yang terus saja membiak.</p>
<p><img class="alignright" src="http://semaugw.files.wordpress.com/2009/02/doa-yangmengancam1.jpg" alt="" width="107" height="150" />Namun, hal berbeda masih dapat dilihat, bahkan secara terbalik, dari kemiskinan yang terus saja hadir. Syahadat Cinta, secara berbeda dari pilihan paradigma kemiskinan di banyak film lainnya, tidak hendak mengabarkan sebuah kondisi kemelaratan kaum muslim tradisional, Syahadat Cinta justru hadir dengan sekian banyak <em>signifiant</em> dalam citra tentang kemewahan, kecerahan, atau juga kesucian. Berbeda dari Doa Yang Mengancam misalnya, Islam dalam Syahadat Cinta adalah Islam yang glamour, yang tersusun dari warna-warna cerah, hadir mengkilap, dan menyusun indeks situasi yang harmoni di sepanjang film. Tak sedikitpun ada wajah kemiskinan di sana. Cerita tampaknya memang disusun untuk menggambarkan kaum kaya, kelas atas, dalam corak keislaman dan cara mereka beragama.</p>
<p>Satu hal yang kental dalam Syahadat Cinta, bahwa icon-icon yang dipilih sebagai perwakilan gambar, bergerak menjauh dari icon-icon film Indonesia lainnya. Apa yang hadir dalam Syahadat Cinta, lebih mengarah pada citra tentang Mesir yang disajikan dalam Ayat-ayat Cinta karya Hanung Bramantyo. Syahadat Cinta lebih merupakan sebentuk gambaran tentang Islam Timur Tengah, Islam yang tumbuh dengan tradisi fashion yang kaya kain, dengan pakaian-pakaian terusan tanpa jeda, dengan manik-manik dan juntai-juntai mengkilap di leher dan tangan. Hanya saja, Syahadat Cinta tidak benar-benar sedang menghadirkan Islam dari negeri yang jauh. Dalam cara berbahasa, Syahadat Cinta masih menarik relasi signifikasi di ruang bernama Indonesia. Sementara, pada Ayat-ayat Cinta, Mesir memang dibentuk dalam proses signifikasi dalam banyak scene, bahkan sejak awal film, ketika simbol berbahasa dalam bentuk tuturan ditampakkan.</p>
<p>Meski demikian, kontras antara <em>signifie</em> muram dan terang dalam banyak film, tidak berbeda dalam pemilihan tematik tentang kondisi pencarian. Baik Islam tradisional atau juga yang digambarkan modern seperti dalam Syahadat Cinta, pencarian makna beragama mengisi silabus cerita sineas Indonesia. Kiamat Sudah Dekat, Doa Yang Mengancam, dan Syahadat Cinta, adalah sebuah drama pencarian yang berujung pada nilai-nilai yang tertuang dalam agama. Di Kiamat Sudah Dekat, Fandi mencari hakekat dari ilmu ikhlas; dalam Doa Yang Mengancam, Madrim mencari jawaban atas sifat maha adil Tuhan; sedangkan pada Syahadat Cinta, si lelaki mencari pencerahan spiritual dari kegersangan batin anak-anak muda modern.</p>
<p>Pelakon dalam cerita tidaklah lahir dari kesempurnaan saat ditampilkan. Fandi dalam Kiamat Sudah Dekat adalah seorang rocker yang tak pernah melirik agama sebelum bertemu dengan seorang haji di sebuah masjid; Madrim adalah penjudi akut yang pernah mabuk-mabukan saat mencari setan di sebuah diskotik; dan lelaki dalam Syahadat Cinta adalah pembalap kaya yang tidak pernah menghiraukan kata-kata keluarga dan orangtuanya, sebelum kabar sakit dari sang ibu didengarnya saat ia sadar dari mabuk beratnya.</p>
<p>Secara berbeda, Ayat-Ayat Cinta justru mencipta seorang pelakon utama yang tak biasa. Fachri, adalah prototype <em>signifiant</em> manusia santun, berbudi pekerti luhur, sabar, dan istiqomah dalam melihat dan mengantisipasi dunia. Ia, adalah pribadi yang menampakkan gagasan tentang <em>insan kamil</em>, pribadi sempurna, yang menghadapi ujian dan cobaan dengan kesabaran yang memukau. Lakon ini juga tampak dalam film lain Hanung Bramantyo, Perempuan Berkalung Sorban, saat menghadirkan sosok Khudori. Ada interrelasi dari Fachri dan Khudori, yang tidak ditemukan dalam lakon-lakon pada film lainnya, dalam hal kesalehan beragama sejak awal mula cerita berlangsung. Fachri dan Khudori, adalah prototype Islam ideal yang tidak canggung, jauh dari bentuk-bentuk Islam yang kaku, dan hadir dalam keterbukaan yang besar terhadap gagasan baru. Makanya, dari Fachri gagasan untuk membela seorang perempuan Amerika di kereta api dihadirkan ke dalam cerita, dan dari lakon Khudori, kata-kata Pramoedya Ananta Toer disajikan saat ia mengirim hadiah pada Annisa.</p>
<p>Selain itu, kecenderungan pada pemilihan isu, dapat ditemukan kesamaan dalam Ayat-Ayat Cinta dan Perempuan Berkalung Sorban, saat menghadirkan perspektif <em>signifiant</em> tentang poligami. Ada kecenderungan penolakan terhadap poligami dalam kedua film, hingga mengisi <em>signifiant</em>-<em>signifiant</em>-nya dengan kondisi gender yang dihadirkan timpang. Pada ayat-ayat Cinta sendiri, poligami menjadi isu krusial yang disajikan dengan kompleks konsekuen masalahnya. Isu yang cukup hangat dalam dunia muslim ini &#8211; bahkan kerap mengundang banyak pro-kontra – menjadi tema utama yang menggelayut dengan lakon-lakon yang membiaskan pluralitas beragama, ketertindasan perempuan, atau juga keangkuhan beragama, sebagai <em>signifiant</em>-<em>signifiant</em> yang disisipkan dalam kompleks <em>signifiant</em> poligami itu.</p>
<p>Sementara, dalam Perempuan Berkalung Sorban, <em>signifiant</em> ketertindasan kaum perempuan dihadirkan secara dominan, sebagai akibat dari pandangan keagamaan tradisional yang terlalu memihak laki-laki. Poligami hadir dalam cerita, sebagai satu bagian yang dibentuk untuk melegitimasi kebenaran cerita tentang ketertindasan kaum perempuan itu. Serupa dengan Tiga Doa Tiga Cinta, yang mengambil <em>signifie</em> pesantren sebagai latar, Perempuan Berkalung Sorban mendudukkan Islam tradisional sebagai yang tergugat, yang menjadi penyebab, yang membuka ruang bagi menggejalanya bentuk-bentuk ketertindasan terhadap perempuan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamalanreaschule.web.id/islam-dalam-film-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ruang</title>
		<link>http://tamalanreaschule.web.id/ruang/</link>
		<comments>http://tamalanreaschule.web.id/ruang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jan 2009 11:07:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[Spesial TaS']]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Ruang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/tas/?p=145</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Eeduy_Haw
SCENE 1
“Apakah karena saya itu bukan manusia hangat, tetapi judes, mulutnya tidak ikut mengecap pendidikan tinggi, ketus sehingga ruang tamu di rumah saya itu selalu sepi, senyap seperti kuburan yang dikunjungi hanya kalau ada perlunya?”
Rasa-rasanya keluh kesah Samuel Mulia –penulis kolom Parodi di harian KOMPAS– di atas tidak dialaminya sendiri. Dipikir-pikir ruang tamu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : Eeduy_Haw</strong></p>
<div id="attachment_155" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-full wp-image-155" title="dsc_02611-300x201" src="http://tamalanreaschule.web.id/wp-content/uploads/2009/01/dsc_02611-300x201.jpg" alt="lt. 2 gedung FIS III - Jaya" width="300" height="201" /><p class="wp-caption-text">lt. 2 gedung FIS III - Jaya</p></div>
<p><strong>SCENE 1</strong></p>
<p>“Apakah karena saya itu bukan manusia hangat, tetapi judes, mulutnya tidak ikut mengecap pendidikan tinggi, ketus sehingga ruang tamu di rumah saya itu selalu sepi, senyap seperti kuburan yang dikunjungi hanya kalau ada perlunya?”</p>
<p>Rasa-rasanya keluh kesah Samuel Mulia –penulis kolom Parodi di harian KOMPAS– di atas tidak dialaminya sendiri. Dipikir-pikir ruang tamu di rumah kita pun mungkin bernasib sama. Kapan sih terakhir kali tamu (dalam artian benar-benar tamu) sudi datang untuk mendudukkan kedua belahan pantatnya berlama-lama di salah-satu kursi ruang itu?</p>
<p>Bersyukurlah sekiranya ruang itu masih mau menjalankan fungsinya dengan fasih ketika Lebaran atau Natal tiba. Itupun yang datang mungkin tak seberapa, hanya keluarga dekat saja. Bayangkanlah dulu, ketika hari perayaan seperti ini tamu-tamu bahkan harus rela mengantri. Hari pertama jatahnya keluarga dekat, hari kedua giliran sahabat-sahabat tercinta, hari ketiga para tetangga, hari keempat menyusul relasi-relasi. Itu belum dibagi berdasarkan kategori tamu Ayah, tamu Ibu, tamu Kakak, dan tamu Adik. Maka praktis seminggu bahkan lebih, ruang itu bekerja dengan ekstra giatnya.</p>
<p>Sekarang cobalah berhenti membayangkan dulu, perhatikan kinerja ruang tamu kita Lebaran atau Natal terakhir. Mungkin tak sesemarak dulu. Tengok pula apa kabarnya ruang tamu kita di luar momen-momen perayaan seperti itu, atau cobalah sekali-sekali mampir untuk sekedar duduk di ruang tamu kita. Sukur-sukur kalau cicak dan laba-laba masih mau setia menggantung di dinding dan plafon.</p>
<p>Yasraf Amir Piliang mungkin tak seheran Samuel Mulia. Dalam bukunya ‘Posrealitas, realitas kebudayaan dalam era posmetafisika’ boleh dikata ia mempreteli fenomena ruang ini hingga ke bagian-bagian paling intim. Silaturahmi sosial (interaksi sosial) kata Yasraf, kini tak lagi harus dilakukan dalam ruang sosial (social space) yang nyata (real).</p>
<p>Jangankan ruang tamu, ruang-ruang sosial-budaya dalam pengertian konvensional semisal RT, RW, desa, lingkungan hingga negara kini telah diambil alih oleh ruang-ruang simulasi sosial (social simulacrum). Kita telah berada di suatu masa dengan tatanan yang terintegrasi dalam masyarakat informsasi global (global information society). Kita berada di sebuah situasi dimana teknologi komunikasi telah menjadi ekstensi bahkan subsitusi indera kita.</p>
<p>Untuk mengucapkan kalimat “mohon maaf lahir &amp; batin” kita tak harus menempuh perjalanan sejauh beberapa kilometer untuk kemudian mengetuk pintu dan menjabat erat tangan si empunya rumah. Dengan membuka kotak pesan, mengetik serangkaian huruf-huruf, dan jangan lupa sisipkan simbol J sebagai pemanis, kalimat itu telah sampai melalui layanan short message service. Atau kalau tidak kirim saja via e-mail. Selesai.</p>
<p>Jarak dan waktu bukan lagi kendala. Urusan bertamu atau siapapun yang kita ingin kunjungi bukan masalah. Kita boleh mengetuk pintu ‘ruang tamu’ virtual Dian Sastrowardoyo untuk sekedar memujinya bahwa dia berakting apik dalam film C atau D. Lewat Facebook, Friendster atau My Space, kita tak perlu ke luar negeri untuk memberi ucapan selamat atas kelahiran anak kembar pasangan Brad Pitt &amp; Angelina Jolie. Kita bahkan bisa melayangkan doa kepada Mr. Obama atas pelantikannya sebagai orang nomor satu United State of America agar kiranya dalam menjalankan kebijakannya akan sesuai dengan keinginan isi kepala orang-orang se-dunia. Paling tidak mampirlah di Menteng, mencicipi bakso racikan Lapangan Tembak Senayan biar orang-orang se-Indonesia berhenti uring-uringan.</p>
<p>Apa sih yang hari ini yang tak bisa dilakukan di dunia maya?</p>
<p>Bersenda gurau, main game, belanja, berdagang, berdebat, mengumpulkan literatur, protes, berpolitik, cari teman, cari massa, cari pacar, bahkan melakukan kegiatan seksual dan prostitusi pun semua bisa dilakukan lewat internet.</p>
<p>Maka jangan heran, jika komunikasi sosial konvensional ala jadul (face to face communication) tak lagi dianggap penting. Orang-orang kini lebih nyaman duduk tamasya hingga tujuh jam lebih di depan monitor komputer daripada duduk satu jam dikursi sofa ruang tamunya Bung Samuel yang dibungkus dengan kain sutra.</p>
<p>Jangan heran pula bila kini ruang tamu kita isinya hanya cicak dan laba-laba yang ikut-ikutan boring menunggu sampai-sampai bikin rumah di dalam rumah. Tak perlu mengerutkan dahi, bila nantinya ruang tamu kita, meski dipercantik sedemikian rupa jatuh-jatuhnya hanya menjadi pajangan di majalah interior.</p>
<p><strong>SCENE 2<br />
</strong><br />
“Sudahlah, setiap kita sebenarnya memerlukan ruang!”</p>
<p>Ibarat anak panah yang melesat, kalimat itu menancap tepat di titik sasaran. Setelah kalimat itu diakhiri dengan tanda seru, sontak orang-orang yang sedang berdiskusi kecil-kecilan di ‘pasar’ bereaksi seragam. Kalau bukan tertawa kecil dengan chord getir, pasti diam terpana beberapa saat seperti ditikam anak panah.</p>
<p>Sekedar informasi, pasar adalah suatu tempat di kawasan FISIP kampus Universitas Hasanuddin yang tergeletak di bawah rerimbunan satu pohon mangga besar. Pasar merupakan lokalisasi gerobak-gerobak pedagang kecil-kecilan yang dulunya tersebar di pelataran koridor FISIP milik penduduk asli yang tinggal di sekitaran kampus. Di depan gerobak-gerobak itulah para mahasiswa, alumni, hingga dosen kerap nongkrong membincangkan tentang apa saja.</p>
<p>Balik ke soal kalimat.</p>
<p>“Kapitalisme tidaklah berakhir. Hanya kata Habermas, kapitalisme masih belum mampu untuk mengakomodir ruang-ruang kepentingan yang ada di kepala masing-masing individu. Bila nantinya ruang-ruang itu telah terpenuhi, maka tak ada lagi yang perlu merasa didominasi atau mendominasi,” lanjut si pemilik kalimat.</p>
<p>Ruang yang dimaksud tentu bukanlah ruang dalam makna harfiah, yakni ruang fisik yang isinya bisa diukur secara mamtematis berdasarkan hasil perkalian dari (p) panjang, (l) lebar dan (t) tinggi. Ruang yang ia tuju adalah sebuah dimensi atau kondisi dimana di sana eksistensi individu bisa dimanifestasikan.</p>
<p>Ruang yang ia maksud itu mungkin ruang sosial, ruang ketika seseorang boleh mendapatkan pengakuan, penghargaan, atau perlakuan istimewa dari orang lain di dalam masyarakat atas dirinya.</p>
<p>Ruang itu mungkin oleh Antonio Gramsci hanya bisa tercipta bila berhasil lolos dari peliknya lubang jarum hegemoni– keberhasilan kita dalam menanamkan pandangan hidup, relasi sosial, atau hubungan kemanusiaan sehingga diterima sebagai sesuatu yang dianggap benar (common sense) atau alamiah oleh orang-orang.</p>
<p>Ruang itu mungkin ruang yang kita bangun berdasarkan akselerasi kekuatan modal, kekuasaan struktural, intelektualitas, bakat, keahlian, kecantikan, penampilan, kekuatan otot, pedang, AK-47, atau kombinasi cara-cara halal dan haram .</p>
<p>Ruang itu mungkin popularitas bagi band-band genit pendatang baru dan aktor-aktor bau kencur. Dimana dengan popularitas visi dari karya seninya bisa mengaung di mata dan telinga banyak orang. Ia pun puas sampai lemas tanpa peduli berapa keuntungan material yang diperoleh setelahnya. Atau yang terjadi mungkin sebaliknya, dengan popularitas dan perolehan keuntungan material maka ruang telah paripurna, peduli suster ngesot (baca: setan) dengan visi karya seni.</p>
<p>Ruang itu mungkin oleh Pierre Bourdieu menuntut kemampuan kita mengkombinasikan secara cerdas perangkat habitus, modal dan ranah yang kita punyai. Sehingga di dalam percaturan sosial, kita lebih menjadi optimal dengan sendirinya.</p>
<p>Ruang itu mungkin adalah ruang yang harus selalu kita jaga. Sehingga setiap tutur, laku, mimik, ekspresi, gesture, hingga cara kita berjalan pun diatur sedemikian rupa agar tak membuat orang lain muak dan meludah di depan kita. Jangan, jangan sampai berbuat overacting hingga posisi (image) sosial kita ternodai seolah-olah habis diperkosa.</p>
<p>Ruang itu mungkin tak lain ego-nya Sigmund Freud, yang hadir di kepala kita setelah melalui proses hitung-hitungan yang matang dari dorongan tak terkendali libido dan konsekuensi logis tekanan luar superego.</p>
<p>Ruang itu pada akhirnya akan terdistribusi secara merata ramal Karl Marx. Segera setelah jurang perbedaan kelas telah hancur, maka akses menuju syarat-syarat produksi, sarana produksi, dan hubungan produksi menjadi milik semua orang. Dan kemudian kita menari-nari di dalam ruang (commune) yang sama.</p>
<p>Ruang itu mungkin yang oleh Friedrich Nietzche adalah kondisi dimana kita harus selalu mengatakan ‘ya’ kepada setiap detik dari hidup yang berjalan, terlepas dari apa rupa situasi yang sedang dihadapi. Sebab kapal telah mengarungi samudera yang luas dan daratan dibelakang kita telah dihancurkan. Pintu pulang telah tertutup, satu-satunya yang ada sekarang bahwa kita harus selalu menghargai apapun (ruang) yang ada di genggaman.</p>
<p>Ruang itu mungkin bagi sufisme tak ada yang lain selain ruang yang dengannya ia bisa mewujud, melakukan penyatuan transedental dengan Tuhan (wahdatul al-wujud), yang merupakan hasil dari cinta yang ditanam dalam diri masnusia. Sehingga dengannya, kesadaran bahwa semua eksistensi hanyalah semata-mata pancaran cahaya wujud Tuhan dan tak ada sesuatu yang lain yang memiliki eksistensi apapun. Dunia beserta segala kemilau isinya yang bisa menipu, menyilaukan, bahkan meyesatkan dengan sendirinya menjadi lenyap tak berarti (fana’) dan digantikan dengan dunia ‘keabadian’ (baqa’) dalam Tuhan.</p>
<p>Atau mungkin ruang yang dimaksud itu seperti ucapan Nurcholis Madjid (1939-2005) “Seorang yang bebas, harus bisa membayangkan hidup dalam situasi (ruang) apapun tanpa perlu kehilangan esensi kemanusiaannya.”</p>
<p><strong>SCENE 3</strong></p>
<p>“Sekarang persoalannya adalah bagaimana kita bisa menciptakan ruang bagi kelangsungan eksisitensi kita,” ucap si pemilik kalimat di salah satu bangku pasar depan gerobak mace (mama). Sore itu langit telah kemerah-merahan menyongsong maghrib..</p>
<p>Kalimat itu mungkin elok bila dilanjutkan dengan akhir tulisan Samuel Mulia yang tertera di harian KOMPAS. “Selamat berjuang membuat ruang tamu Anda seperti magnet,” katanya.</p>
<p>* * *</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamalanreaschule.web.id/ruang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nongkrong! Sia-siakah?</title>
		<link>http://tamalanreaschule.web.id/nongkrong-sia-siakah/</link>
		<comments>http://tamalanreaschule.web.id/nongkrong-sia-siakah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Jan 2009 17:54:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Spesial TaS']]></category>
		<category><![CDATA[Budaya Keseharian]]></category>
		<category><![CDATA[Features]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/tas/?p=131</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Victor Sosang
Pernah coba jalan-jalan ke unhas (Universitas Hasanuddin) di masa perkuliahan sedang padat-padatnya? Maka salah-satu hal yang niscaya anda akan jumpai adalah kumpulan-kumpulan mahasiswa yang tengah asyik duduk berkerumun.
Nongkrong. Ya, itulah istilah yang biasa kita pakai untuk menyebutnya. Tapi kayaknya, urusan nongkrong bukan cuma terjadi di unhas saja. Pemandangan seperti ini dapat kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Victor Sosang</p>
<div id="attachment_158" class="wp-caption aligncenter" style="width: 458px"><img class="size-full wp-image-158" title="pasar_1" src="http://tamalanreaschule.web.id/wp-content/uploads/2009/01/pasar_1.jpg" alt="MTC sospol - siapa yg motret ?" width="448" height="299" /><p class="wp-caption-text">MTC sospol - siapa yg motret ?</p></div>
<p>Pernah coba jalan-jalan ke unhas (Universitas Hasanuddin) di masa perkuliahan sedang padat-padatnya? Maka salah-satu hal yang niscaya anda akan jumpai adalah kumpulan-kumpulan mahasiswa yang tengah asyik duduk berkerumun.</p>
<p>Nongkrong. Ya, itulah istilah yang biasa kita pakai untuk menyebutnya. Tapi kayaknya, urusan nongkrong bukan cuma terjadi di unhas saja. Pemandangan seperti ini dapat kita jumpai juga di setiap pelataran kampus manapun. Entah itu kampus yang telah tercatat oleh instansi yang bertanggung jawab ataupun yang belum alias lupa dicatat.</p>
<p>Budaya nongkrong memang mewabah. Penikmatnya pun bukan ekslusif dari kalangan kampus semata. Di depan televisi orang-orang sering nongkrong. Tengok saja bagaimana Daniel, salah satu VJ (Video Jockey) MTV sering menyapa kita</p>
<p>“Halo…anak nongkrong MTV! What’s up!” sapa cowok blasteran yang berlesung pipi ini disertai senyum manis.</p>
<p>Selain di kampus dan depan TV, terminal, kafe, mall, warung kopi, dekker (tempat duduk di perapatan jalan), kamar kos-kosan, atau pos ronda juga tak luput dijadikan orang-orang sebagai ajang kongkow-kongkow (istilah lain menyebut nongkrong).</p>
<p>Bahkan yang lebih menakjubkan, abdi-abdi pejabat instansi pemerintahan (maaf, sekali lagi instansi pemerintahan) pun dirasuki budaya satu ini. Mereka kerap nongkrong di sudut-sudut depan kantor meski masih dalam masa jam kerja.</p>
<p>Di kampus, ritual menunggu dosen atau jeda waktu kuliah yang panjang menjadi alasan untuk nongkrong. Keuntungannya, para mahasiswa bisa menambah sekaligus menumbuh-kembangkan relasi sosialnya. Lain lagi bagi para alumni yang juga masih doyan ke kampus. Silaturrahmi, jalan-jalan, dan bernostalgia demi mengenang romantisme masa lalu adalah latar-belakang kedatangan mereka.</p>
<p>Nah, di Unhas, nongkrong umumnya dilakukan di tempat mace-mace –sebutan untuk para pedagang yang umumnya dilakoni kaum ibu– berjualan aneka kebutuhan lambung mahasiswa. Kemasan acaranya diisi antara lain dengan main domino, ngobrol, cekikikan, atau berkunjung ke jagad maya (sekitar 1 tahun terakhir internet mulai meramah kampus yang katanya terbesar di Indonesia timur ini).</p>
<div id="attachment_159" class="wp-caption aligncenter" style="width: 458px"><img class="size-full wp-image-159" title="_MG_0834_fhdr" src="http://tamalanreaschule.web.id/wp-content/uploads/2009/01/MG_0834_fhdr.jpg" alt="MTC sospol - siapa yg motret ?" width="448" height="299" /><p class="wp-caption-text">MTC sospol - siapa yg motret ?</p></div>
<p>Bahan obrolan macam-macam. Dari soal kuliah, organisasi mahasiswa, buku terbaru, skripsi, musik, film, persiapan demonstarsi, gosip tentang cewek/ cowok yang bikin liur menetes, hingga soal berapa helai kumis Tukul Arwana pun dikaji dengan menggunakan metode ilmiah.</p>
<p>Ajaibnya, meski dewa matahari telah menghilang di ufuk, para pecandu nongkrong masih betah menghabiskan waktu hingga adzan isya berkumandang. Bila masih belum puas, padahal nyamuk telah menyerang membabi buta sementara mace mulai menggembok gerobaknya maka tempat nongkrong lantas dialih-fungsikan ke tempat lain. (catatan: gerobak digembok itu tandanya mace “mengusir” secara halus).</p>
<p>Yah…nongkrong memang telah menjadi candu. Semacam zat-zat yang –mungkin laknat kata Bang Rhoma – membuat orang ketagihan. Bukan ke kampus katanya jika tak menyempatkan waktu untuk menyandarkan pantat di kursi depan gerobak mace. Meski itu hanya beberapa menit.</p>
<p>Sepintas lalu, orang-orang mungkin akan berpikir bahwa aktivitas ini hanya membuang-buang waktu. Namun orang-orang tersebut sebenarnya salah-kaprah, sebab nongkrong bukan hanya membuang waktu, tetapi energi dan cost pun ikut terkuras.</p>
<p>Lantas, apakah nongkrong memang kerjaan yang tak ada barokahnya?</p>
<p>Kata teman saya, banyak hal yang bisa lahir dari rutinitas semacam ini. Berbagai kegiatan mahasiswa ide-idenya lahir dari gerobak depan mace. Sebut saja pembuatan film, rancangan-rancangan penelitian, pameran foto, tulisan-tulisan di media massa, workshop pelatihan, atau kegiatan sosial lainnya.</p>
<p>Lepas dari itu, kata teman saya lagi, nongkrong juga dapat dilihat sebagai suatu bentuk resistensi. Logika kapitalisme menekankan percepatan produksi. Baginya, makin cepat produksi berputar maka makin besar pula hasil yang diperoleh. Karenanya pemanfaatan waktu seoptimal mungkin menjadi syarat mutlak. Kalimat sederhananya “waktu sama dengan uang”.</p>
<p>Namun konsekuensi yang harus dibayar adalah tercerabutnya manusia dari waktu luang. Persis seperti apa yang tergambar dalam film “Citizen Dog” karya sutradara Wisit Sasanatieng (Thailand) bila memang pernah menyaksikannya. Nah, di situ digambarkan bagaiamana orang-orang pabrik tak ubahnya robot-robot yang memproduksi sarden dari pagi hingga petang setiap harinya.</p>
<p>Nongkrong menolak logika ini, menurutnya waktu bukan untuk dikerahkan semuanya untuk kegiatan produksi (kerja). Memang, tak ada cerita bahwa sehabis menyandarkan pantat bersama sekumpulan teman-teman, orang lalu mendapatkan upah sehari, seminggu atau sebulan. Tapi dengan nongkrong orang bisa menciptakan hubungan sosial baru, mempererat hubungan sosial yang ada, saling bertukar informasi, atau sekedar bernostalgia mengenang romantisme masa lalu. “Inilah harga sosial yang diperoleh dari nongkrong yang belum tentu setimpal dengan segepok duit ribuan,” timpal teman saya dengan semangat 17 Agustus.</p>
<p>Lagi pula sekali nongkrong di kampus, toh tak harus merogoh kocek begitu dalam. Kalau dihitung-hitung mengisi perut sebanyak 2-3 kali di gerobak mace tidak lebih besar dari harga secangkir Cappucino racikan J” CO, Exelco, atau Black Canyon. Enaknya lagi, di mace orang boleh ngutang dengan suku bunga nol rupiah.</p>
<p>Anyway, kejadian di atas sebenarnya pernah terjadi di seputar Unhas.</p>
<p>Ceritanya, Dalam suatu tongkrongan seorang mahasiswa (panggil saja si A) berkeinginan mengajak temannya (panggil saja si B) untuk sama-sama ke rumah dosen mengurus nilai mata kuliah mereka yang sama-sama status tunda. Si B mengiyakan namun namun waktunya kapan belum ditentukan.</p>
<p>Pada saat pembicaraan berlangsung soal kapan waktu yang tepat untuk pergi, tiba-tiba handphone milik si B berbunyi. Nada deringnya meniru suara jangkrik. Tak berapa lama si B lantas pamitan kepada teman-temannya (termasuk si A) karena ada janji dengan orang lain.</p>
<p>Si A pun spontan buru-buru menawari si B untuk pergi ke rumah dosen besok saja. Ia takut kalau si B nantinya lupa akan hal ini.</p>
<p>“Jangko besok, sibuk ka&#8217;! (jangan besok, besok saya sibuk!),”jawab si B tanpa berpikir panjang.</p>
<p>Sontak satu tongkrongan langsung menyambut jawaban si B dengan tawa yang tidak berperikemanusiaan, jauh dari norma-norma Pancasila, dan sudah keluar dari Garis-Garis Besar Haluan Negara.</p>
<p>“Sibuk apa ko kau, sibuk nongkrong? (kamu sibuk apa, sibuk nongkrong?),” sundul salah seorang di antaranya.</p>
<p>Begitu logika dominan (mainstream) berbicara. Sibuk selalu merujuk pada aktivitas yang teramat padat (kerja) demi untuk memperoleh bayaran.</p>
<p>Tapi kalau di[ikir-pikir toh tak salah juga jika si B beranggapan bahwa nongkrong adalah waktu sibuk bagi dia. Hanya bila sibuknya logika mainstream bertujuan untuk mendaptkan uang, penghargaan, pengakuan atau apalah. Maka sibuknya si B bertujuan untuk mendapatkan sesuatu semisal penambahan pengetahuan, informasi, atau paling tidak dapat mempererat hubungan sosialnya. Sebab rasa-rasanya tak ada ukuran pasti yang bisa menilai mana yang lebih penting.</p>
<p>Bisa jadi begitu runut pemikiran si B. Bisa juga tidak, sebab si B hanyalah seorang mahasiswa yang kecanduan nongkrong dan butuh di rehabilitasi.</p>
<p>Yang pasti, biar lebih jelas silahkan tanyakan sendiri ke yang bersangkutan yang kini terdaftar sebagai pegawai honor instansi pemerintah di salah satu Kabupaten di Sulawesi Selatan. Nomor teleponnya: “lain kali aja kali yeee……”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamalanreaschule.web.id/nongkrong-sia-siakah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gocek, oper, one-two, tendang, goooll…!!!</title>
		<link>http://tamalanreaschule.web.id/gocek-oper-one-two-tendang-goooll%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://tamalanreaschule.web.id/gocek-oper-one-two-tendang-goooll%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Jan 2009 17:37:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Spesial TaS']]></category>
		<category><![CDATA[Sepak Bola]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/tas/?p=123</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Eeduy_Haw
Minggu sore.
Seperti biasanya, gedung Ex-GORO yang terletak di kawasan Jl A. P. Pettarani selalu ramai dikunjungi orang-orang. Mereka utamanya barisan Adam yang datang dengan menenteng perlengkapan olahraga.
Kemeja diganti kaos. Celana panjang ditukar celana pendek. Kaos kaki dan sepatu kets dikenakan. Warming-up sebentar, peluit pun dibunyikan.
Futsal, miniatur sepakbola sebab hanya melibatkan pemain 5 lawan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : Eeduy_Haw</strong></p>
<p>Minggu sore.</p>
<p>Seperti biasanya, gedung Ex-GORO yang terletak di kawasan Jl A. P. Pettarani selalu ramai dikunjungi orang-orang. Mereka utamanya barisan Adam yang datang dengan menenteng perlengkapan olahraga.</p>
<p>Kemeja diganti kaos. Celana panjang ditukar celana pendek. Kaos kaki dan sepatu kets dikenakan. Warming-up sebentar, peluit pun dibunyikan.</p>
<div id="attachment_152" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-full wp-image-152" title="2" src="http://tamalanreaschule.web.id/wp-content/uploads/2009/01/2.jpg" alt="yg motret ini siapa yah?" width="300" height="200" /><p class="wp-caption-text">yg motret ini siapa yah?</p></div>
<p>Futsal, miniatur sepakbola sebab hanya melibatkan pemain 5 lawan 5. Setahun terakhir, gedung Ex-GORO di fungsikan untuk memainkan permainan yang akhir-akhir ini makin populer. Dulunya, gedung ini adalah pusat perbelanjaan bernama GORO yang dikelola oleh pengusaha Nurdin Halid. Entah mengapa dan bagaimana ceritanya, usaha ini gulung tikar. Tinggallah GORO kosong-melompong tanpa aktivitas apa-apa di dalamnya.</p>
<p>Si pemilik Futsal Center mungkin melihat peluang bisnis bagus terhadap gedung ini. Ia merenovasi sedikit beberapa bagian lalu membaginya menjadi empat petak lapangan bola mini. Dinding dan langit-langit tiap bagian disekat dengan anyaman tali yang biasa digunakan ibu-ibu membuat tali jemuran. Lantainya ia lapisi dengan bahan tertentu dimana lapisan tertatas adalah rajutan tali-rafia.</p>
<p>Fasilitasnya lumayan lengkap. Biar tak seperti dipanggang di dalam oven, ruangan dipasangi Air Conditioner. Setiap sudut terdapat speaker yang biasa dipakai pengelola untuk menyampaikan pemberitahuan sekaligus memutarkan lagu-lagu pengiring permainan semisal Starlight-nya Muse atau Aku Jatuh Cinta-nya Mulan Jameela. Fasilitas bathroom, mini-market serta ruang internet tak ketinggalan.</p>
<p>Maka rasa-rasanya lengkaplah segala kenyamanan dalam urusan menendang si kulit bundar di tempat yang kemudian diberi nama Futsal Center Ex-GORO.</p>
<p>* * *</p>
<p>Mereka yang pernah hidup di kawasan Pettarani di dekade 90-an mungkin tak pernah menyangka area ini berkembang begitu cepatnya. “Dulu, memandang ke selatan dari arah rumah saya, maka IKIP pun kelihatan,” urai Udin salah-satu penduduk yang telah puluhan tahun tinggal di kawasan ini.</p>
<p>“Hanya sawah yang membatasi rumah saya dan IKIP, tak ada bangunan lain termasuk Ex-GORO. Itulah mengapa atap-atap IKIP akan kelihatan meskipun jauhnya mungkin kurang-lebih 2 km,” lanjutnya.</p>
<p>Menyusuri Jl. A. P. Pettarani dari arah utara, maka rumah Udin yang terletak di Kelurahan Tamamaung tergolong kawasan paling awal yang akan dijumpai. Baru setelah berjalan ke arah selatan sejauh yang disebutkan Udin di atas, maka berturut-turur kita kemudian menjumpai kawasan Jl. Hertasning, bangunan Ex-GORO lalu Kampus IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan) yang sekarang berganti nama Universitas Negeri Makassar (UNM).</p>
<p>Orang-orang yang tinggal di kelurahan ini membenarkan omongan Udin. Apalagi mereka yang tergolong penduduk asli yang rata-rata suku Makassar. Dalam sejarah, tadinya sawah-sawah itu miliknya. Seiring laju zaman, satu demi satu sawah itu dijual ke pemerintah atau pengusaha.</p>
<p>Di dekade 90-an, Pettarani hanyalah kawasan pingiran kota. Bisa dibilang ujung paling luar kota Makassar. Konon kabarnya area ini dipakai orang-orang jahat membuang mayat korban pembunuhan.</p>
<p>Sawah adalah lahan mata pencaharian bagi penduduk sekitar waktu itu. Ketika musim penghujan tiba, maka hamparan padi yang hijau menjuntai luas memenuhi kiri-kanan jalan, terus hingga ke IKIP. Bocah-bocah ingusan lantas ramai berburu roya-roya (sejenis burung bangau yang hidup di sawah dalam bahasa setempat) dengan ketapel. Burung ini sangat nikmat di bakar dan disantap dengan nasi hangat. Kompleks Panakkukang Mas, Mall Panakkukang, kawasan Hertasning pun tadinya hanyalah sawah.</p>
<p>Saat musim kemarau tiba, ketika panen telah usai, hamparan padi lalu berganti tanah kosong yang lapang menunggu musim penghujan datang. Saat-saat inilah sawah-sawah ini dimanfaatkan anak-anak dan orang dewasa bermain bola. Tiang-tiang bambu didirikan menjadi gawang. Tentu dulu Futsal belum ada. Yang ada sepakbola yang dimainkan 11 lawan 11, bahkan 15 lawan 15 sekalipun. Tak perlu heran, sebab luas lapangan memang naudzubillah, sekampung lawan sekampung juga jadi.</p>
<p>Ex-GORO adalah salah-satu dari sekian lapangan bola ini. Jadi, kalau dipikir-pikir keakraban Ex-GORO dengan sepakbola sudah terjalin sejak lama. Hanya saja, kini persahabatan mereka sedikit dimodifikasi, dijalin berdasarkan azas ekonomi.</p>
<p>Kalau dulunya sore-sore bermain bola di bawah atap langit, kini dipindahkan ke dalam ruangan. Kalau dulunya sejuk dengan hembusan angin sepoi-sepoi, kini sejuk dengan Air Conditioner. Kalau dulu tiang-gawangnya dari bambu, kini dari besi. Kalau dulu rumputnya asli rerumputan (nama biologi????), kini plastik bahan sintesis. Kalau dulunya keringat itu gratis, kini bayar!</p>
<p>Laju zaman dengan logika kapital memang demikian. Ilmu pengatahuan dan teknologi adalah tuhan. Industrialisasi adalah satu-satunya sistem mumpuni yang terpercaya untuk menghantar ke peradaban yanga lebih maju. Masyarakat agararis harus beranjak ke masyarakat indusrtri. Sawah terlihat canggung di tengah kota, gantilah ia dengan gedung perkantoran atau rumah toko. Jangan jadi petani di tengah kota, jadilah enterpreneur kata pakar ekonom. Di kota, jangan ternak sapi kata seorang antropolog, ternaklah mobil.</p>
<p>Gerak kota memang gesit. Saking gesitnya, Udin– yang Ayahnya dulu memiliki sebidang sawah di kawasan Pettarani– kini tak habis pikir kok sekarang dalam kurun waktu yang relatif singkat, ia jadi tukang parkir di atas bekas lahan bapaknya dimana sekarang di sekitarnya tumbuh Fed Ex, Pizza Ria Kafe, Hotel Denpasar, dan Mall Panakkukang.</p>
<p>Bila memandang ke selatan, kawasan Pettarani tak lagi seperti cerita Udin. IKIP tak lagi kelihatan. Sawah-sawah berganti gedung-gedung. Tiang gawang dari bambu entah ke mana. Roya-roya kegemaran bocah-bocah ingusan hilang. Cerita Udin seperti dongeng pengantar tidur semata.</p>
<p>* * *</p>
<p>Sebuah suara yang mirip bunyi klakson tronton mengagetkan telinga bersamaan dengan angka 00:00 yang tertera pada timer dinding lapangan 3 gedung Ex-GORO. Orang-orang di dalam lapangan seta-merta menghentikan permainan. Sebagian lantas memilih duduk di bangku untuk sejenak melepas lelah, sebagian lain memilih langsung ke bathroom membersihkan badan. Setelah selesai, salah seorang di antara mereka mampir sejenak ke meja kasir, sementara yang lain langsung terus ke parkiran.</p>
<p>Perkenalan Ex-GORO dengan si kulit bundar sebenarnya bukan yang pertama kali. Hanya saja, ada yang telah sedikit berubah dengan persahabatan mereka.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamalanreaschule.web.id/gocek-oper-one-two-tendang-goooll%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
