Tentang TAS
TAS ‘Tamalanrea Schule’
Sebagian besar kita, setidaknya memiliki tas.
Mama yang tinggal di kaki pegunungan Papua saja punya tas. Ia kerap menggantungnya di kepala sehingga menjuntai sampai ke punggung. Isinya, umbi-umbian yang digali dari kebun. Tas punya mama ini biasanya hasil anyaman tangan sendiri.
Tas milik pemancing di tepi laut– dipakai untuk menampung ikan-ikan tangkapan– mirip dengan tas kepunyaan mama. Bedanya, tas pemancing ini dirajut dari bahan benang plastik.
Bocah-bocah TK juga memakai tas. Tapi bukan tas anyaman. Isinya juga bukan ikan atau umbi-umbian. Paling sering nasi goreng telur ceplok atau kue-kuean plus teh hangat.
Remaja sekolahan memakai tas, isinya buku-buku pelajaran. Yuppies-yuppies yang hidup di ‘kota yang tak pernah tidur’ sering menenteng tas yang berwarna hitam. Di dalamnya laptop, bahan laporan, atau document penting perusahaan. Ibu-ibu rumah tangga yang sibuk menawar harga tempe di pasar pagi juga membawa tas. Besarnya hanya segenggaman tangan. Cukup diisi dengan uang belanja sehari-hari.
Nah, TAS yang kami bawa ini sifatnya sama dengan tas-tas di atas. Yakni, sebagai wadah untuk membawa sesuatu. Hanya saja, rupanya sedikit berbeda. Penampilannya lebih seperti apa yang sekarang tampak di hadapan teman-teman semua. Sebut saja TAS kami ini ‘Tas Virtual’. Tapi, kami sendiri memberinya nama dengan sebutan ‘Tamalanrea Schule’.
Schule dalam bahasa Jerman berarti ‘sekolah’. Namun, kami lebih memaknainya sebagai suatu ‘mazhab pemikiran’. Tamalanrea sendiri bukan kosa kata Jerman. Melainkan suatu wilayah di pinggiran timur kota Makassar. Kami memang asalnya dari salah-satu kampus di wilayah ini. Hingga sekarang, kami masih suka duduk-duduk di bawah salah-satu pohon kampus ini.
Seumpama teman-teman menebak bahwa Tamalanrea Schule adalah cangkokan dari Frankfurt Schule, itu tak salah lagi. Kami memang terinspirasi dari mazhab pemikiran yang kesohor di tahun ???? di negerinya Hitler itu.
Apa yang kami bawa di dalam TAS kami ini hanyalah serangkaian tulisan-tulisan yang merupakan hasil pergulatan perangkat otak kami yang sederhana. Objek pemikiran kami sendiri fokus pada seputar tema-tema Cultural Studies (studi kebudayaan). Bisa tentang sisi ideologi, sub culture, budaya massa, lifestyle, semiotika, es-krim, potongan rambut, cappucino, panorama alam, sampai evolusi sepak bola yang sekarang dilakukan di ruang ber-AC di atas rumput plastik. Pokoknya apapun itu, selama menyangkut tema-tema budaya manusia yang lekat dengan keseharian kita.
Terkadang kami menyajikannya ke dalam bentuk artikel, reportase, review, atau hanya berupa potongan-potongan gambar. Mungkin biar lebih jelas mengenalnya, silahkan berpetualang sendiri di dalam TAS kami.
Setiap orang yang menenteng tas, pastinya menyimpan sesuatu yang berharga di dalamnya. Paling tidak bisa menjadi bekal bagi dirinya.
Seperti juga mama, pemancing, bocah TK, yuppies, remaja sekolahan, ibu-ibu rumah tangga, kami pun berharap bila TAS yang kami bawa ini bisa menjadi bekal yang berguna untuk merefleksikan peradaban budaya sehari-hari kita.
Salam

